Ketahanan Lukisan Tebing Huashan selama lebih dari 2.000 tahun diduga tidak hanya bergantung pada pigmen merah alami. Penelitian menemukan campuran kapur, mineral, dan komponen darah manusia kemungkinan menjadi pengikat yang membuat warna tetap melekat pada batu kapur.
Temuan tersebut menyoroti kecanggihan teknik material masyarakat kuno di tengah cuaca Guangxi yang keras. Kawasan ini menghadapi panas, kelembapan tinggi, hujan lebat, serta dua hingga tiga badai topan setiap tahun.
Para peneliti memeriksa serpihan material yang telah lepas dari tiga lokasi di kawasan Huashan. Metode itu memungkinkan pengujian dilakukan tanpa mengambil bagian dari gambar asli yang masih menempel di tebing.
Analisis dilakukan melalui spektroskopi Raman, mikroskopi elektron, analisis inframerah, dan proteomik. Hasilnya memperlihatkan adanya bahan organik dan mineral yang membentuk sistem lapisan cat lebih rumit daripada penggunaan tanah berwarna semata.
Dua Lapisan yang Mengunci Warna Merah
Proses pembuatan gambar diduga berlangsung dalam dua tahap. Perajin lebih dahulu menyiapkan lapisan dasar pada dinding tebing, lalu menambahkan warna merah di atasnya.
| Tahap | Bahan Utama | Fungsi |
|---|---|---|
| Lapisan dasar | Kapur tohor, kalsium fosfat, dan darah | Membentuk pengikat pada permukaan tebing |
| Lapisan warna | Tanah liat lokal kaya nano-hematit | Menghasilkan warna merah pada gambar |
Pigmen merah pada gambar berasal dari tanah liat lokal yang kaya nano-hematit. Partikel mineral berukuran sangat kecil itu diduga dapat terkunci lebih kuat ketika ditempatkan di atas lapisan dasar berbahan kapur.
Kapur kemudian bereaksi dengan karbon dioksida di udara dan membentuk kalsium karbonat yang keras. Protein dari darah diperkirakan membantu membangun struktur mineral padat yang menahan partikel nano-hematit pada permukaan batu.
Uji proteomik pada fragmen cat juga menemukan protein serum manusia. Bukti ini menjadi dasar dugaan bahwa darah manusia memang digunakan dalam campuran pengikat, meski rincian asal bahannya masih menjadi bahan hipotesis.
Peneliti mengajukan kemungkinan bahwa komponen darah berasal dari perempuan yang baru melahirkan. Dugaan itu dikaitkan dengan nilai kesuburan perempuan dalam tradisi masyarakat Luoyue, tetapi belum dapat dipastikan sebagai fakta.
Warisan Seni Cadas di Guangxi
Seni Cadas Huashan membentang sekitar 260 kilometer di sepanjang Sungai Zuojiang, Guangxi, dekat perbatasan China dan Vietnam. Kawasan tersebut telah masuk daftar Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2016.
Lebih dari 80 lokasi di kawasan itu memuat gambar merah dengan beragam bentuk. Motifnya mencakup manusia, hewan, perahu, senjata, serta alat musik tradisional.
Gambar-gambar tersebut diperkirakan dibuat sejak abad kelima Sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi. Masyarakat Luoyue diyakini secara luas sebagai pembuatnya, berdasarkan catatan sejarah mengenai kelompok matrilineal yang pernah tinggal di wilayah Sungai Zuojiang.
Lingkungan tempat gambar itu berada sebenarnya tidak ideal bagi cat ruang terbuka. Suhu di wilayah tersebut dapat melampaui 40 derajat Celsius, sementara banyak pigmen merah tetap bertahan pada tebing setinggi puluhan meter.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science itu menunjukkan bahwa bahan organik dapat berperan penting dalam teknologi seni kuno. Penggunaan darah manusia dalam campuran tersebut juga membuka pembacaan baru tentang hubungan antara kebutuhan teknis dan makna ritual pada lukisan Huashan.






