12 Titik Longsor Menutup Jalan di NTT, Alat Berat Dikerahkan Setelah Gempa

Sebanyak 12 titik longsor menutup sejumlah ruas jalan di Nusa Tenggara Timur setelah gempa bumi besar pada Minggu, 16 Agustus 2026. Kondisi ini berisiko menghambat pergerakan petugas, pengiriman logistik darurat, serta mobilitas warga di wilayah terdampak.

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional NTT telah menurunkan loader dan excavator untuk membersihkan material yang menutup akses. Pembukaan jalur menjadi pekerjaan mendesak agar bantuan dapat mencapai masyarakat yang membutuhkan.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menugaskan Kementerian Pekerjaan Umum mengerahkan sumber daya ke lokasi terdampak. Pemerintah menempatkan konektivitas sebagai prioritas awal dalam respons terhadap gempa bumi di NTT.

“Konektivitas adalah prioritas, karena tanpa akses, bantuan tidak akan sampai. Karena itu, jalan yang terdampak harus segera ditangani agar mobilitas petugas, bantuan logistik, dan masyarakat tetap dapat berlangsung,” kata AHY.

Sebaran Titik Longsor

Titik-titik longsoran tersebar di tiga ruas jalan dengan jumlah kejadian yang berbeda. Ruas Aegela–Batas Kota Ende menjadi lokasi dengan titik penanganan terbanyak.

Ruas JalanJumlah TitikPenanganan
Ruteng–KM 2103 titikPembersihan material longsor
KM 210–Batas Kabupaten Manggarai1 titikPembersihan material longsor
Aegela–Batas Kota Ende8 titikPembersihan material longsor

Penanganan longsor di NTT tersebut dilakukan untuk menjaga jalur darat tetap bisa digunakan dalam masa kedaruratan. Akses jalan dinilai penting bagi distribusi bantuan dan kelancaran kegiatan penanganan bencana.

Layanan Dasar Turut Dipantau

Pemerintah tidak hanya memusatkan penanganan pada jalan yang tertutup material. Kondisi infrastruktur sumber daya air di sejumlah lokasi juga diperiksa untuk memastikan layanan dasar masyarakat tetap terjaga.

Pemeriksaan visual menunjukkan Bendungan Napungete, Waerita, dan Mbay berada dalam kondisi baik. Sementara itu, kerusakan ringan ditemukan pada bendung serta jaringan Daerah Irigasi Wae Laku di Manggarai Timur yang turut tertimbun longsor.

Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II menyiagakan drilling rig dan truck crane untuk mendukung pekerjaan di lapangan. Peralatan tersebut disiapkan sebagai bagian dari pemulihan infrastruktur pada fasilitas yang terdampak.

Penanganan juga mencakup SPAM Waemese di Labuan Bajo. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan layanan dasar bagi masyarakat di tengah proses penanganan darurat.

Bantuan dan Asesmen Berjalan Bersamaan

Di luar pekerjaan fisik, puluhan ribu paket sembako dari Bantuan Presiden telah disalurkan kepada warga terdampak. Kementerian dan lembaga terkait melanjutkan penanganan darurat secara terpadu di wilayah bencana.

AHY menegaskan bahwa kerusakan akses tidak boleh memperberat kondisi warga maupun menghambat pertolongan. “Konektivitas dan layanan dasar yang terdampak harus dipulihkan secepat mungkin,” tegasnya.

Verifikasi serta asesmen kerusakan fasilitas umum dan permukiman warga masih berlangsung. Hasil penilaian itu akan menjadi dasar bagi penanganan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Menurut AHY, pembangunan kembali setelah masa darurat perlu memberi perlindungan yang lebih baik. Infrastruktur yang dibangun kembali diharapkan lebih kuat dan lebih tahan terhadap gempa agar masyarakat semakin terlindungi.

Baca Juga