Setoran Freeport Diproyeksi Turun Rp28 Triliun, Produksi 2026 Baru Capai 65%

PT Freeport Indonesia memproyeksikan kontribusinya kepada negara turun dari Rp75 triliun pada 2025 menjadi Rp47 triliun pada 2026. Penurunan Rp28 triliun itu terjadi ketika produksi perusahaan diperkirakan baru berjalan di level 65%.

Proyeksi tersebut menegaskan dampak gangguan operasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave terhadap penerimaan negara. Longsoran di area tambang itu membuat pemulihan produksi belum dapat dilakukan sepenuhnya dalam waktu dekat.

Meski turun, nilai Rp47 triliun tetap mencerminkan besarnya posisi PT Freeport Indonesia dalam penerimaan negara. Target itu ditopang rencana produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas sepanjang 2026.

Jalur Pemulihan Produksi hingga 2027

Manajemen menargetkan kapasitas produksi meningkat menjadi 75% pada semester I tahun berikutnya. Setelah itu, produksi ditargetkan terus bergerak menuju pemulihan penuh pada akhir 2027.

PeriodeTarget ProduksiKontribusi kepada Negara
2025Tidak dirinciRp75 triliun
202665%Rp47 triliun
Semester I tahun berikutnya75%Diproyeksikan meningkat
Akhir 2027Menuju 100%Berpotensi lebih dari Rp100 triliun per tahun

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas menyatakan penerimaan negara tetap dapat mencapai Rp47 triliun walaupun tingkat produksi baru 65%. Ia menyampaikan proyeksi tersebut dalam upacara HUT ke-81 RI di Tembagapura, Papua Tengah.

“Katakan bahwa kita hanya bisa produksi 65%. Tapi diproyeksikan bahwa penerimaan negara dari Freeport Indonesia bisa mencapai 47 triliun,” ujar Tony.

Pemulihan produksi menjadi faktor utama yang menentukan ruang peningkatan setoran pada periode berikutnya. Saat kapasitas kembali 100%, kontribusi perusahaan kepada negara diproyeksikan dapat melampaui Rp100 triliun setiap tahun, bahkan sekitar Rp120 triliun.

Kontribusi 2025 Mengalir ke Daerah Papua Tengah

Sebelum proyeksi penurunan pada 2026, PT Freeport Indonesia mencatat kontribusi Rp75 triliun kepada negara sepanjang 2025. Dari jumlah itu, sekitar Rp13 triliun dialokasikan untuk Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta kabupaten lain di Papua Tengah.

Alokasi tersebut menjadi bagian dari manfaat ekonomi yang disalurkan perusahaan kepada pemerintah pusat dan daerah. Besarnya kontribusi pada 2025 juga menunjukkan peran operasi tambang tembaga dan emas Freeport bagi penerimaan negara.

Tony mengatakan setoran itu mencerminkan komitmen perusahaan untuk tetap memberikan manfaat saat menghadapi berbagai tantangan operasional. “Kontribusi tersebut mencerminkan komitmen kita yang tidak pernah surut untuk memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat meskipun kita menghadapi berbagai tantangan,” kata Tony.

Investasi Tambang Kucing Liar

Di tengah pemulihan Grasberg Block Cave, perusahaan juga melanjutkan pengembangan Tambang Kucing Liar dengan nilai investasi Rp72 triliun. Proyek tambang bawah tanah ini disiapkan sebagai fondasi keberlanjutan produksi dalam jangka panjang.

ProyekNilai InvestasiPotensi Hasil Operasi
Tambang Kucing LiarRp72 triliunLebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounces emas

Tambang Kucing Liar diproyeksikan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga serta 6 juta ounces emas selama masa operasinya. Pengembangan proyek tersebut berjalan bersamaan dengan upaya perusahaan memulihkan kapasitas produksi utama.

Menurut Tony, investasi itu menunjukkan perusahaan tetap membangun di tengah masa pemulihan. Keberadaan tambang baru diharapkan menjaga kesinambungan manfaat ekonomi PT Freeport Indonesia bagi negara dan masyarakat.

“Investasi ini menunjukkan bahwa di tengah masa pemulihan, Freeport Indonesia tetap melangkah maju dan terus membangun fondasi bagi keberlanjutan perusahaan dan manfaatnya bagi bangsa dan negara,” tandasnya. Pemulihan Grasberg Block Cave dan pengembangan Tambang Kucing Liar kini menjadi dua faktor penting bagi arah setoran perusahaan pada tahun-tahun mendatang.

Baca Juga