Selendang Merah Maudy Ayunda Ternyata Menyimpan Jejak Penari Tor Tor

Selendang merah yang dikenakan Maudy Ayunda dalam perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia bukan sekadar pelengkap busana. Benda vintage dari Toba itu dikenal sebagai Selendang Pucca, yang lazim menjadi bagian penutup kepala atau topi penari Tor Tor.

Penggunaan Selendang Pucca memberi makna berbeda pada tampilan putih-merah Maudy. Unsur fesyen kontemporer hadir tanpa menanggalkan fungsi budaya yang melekat pada benda tersebut.

Maudy membagikan potret penampilannya melalui Instagram pada Senin (17/8/2026). Ia mengenakan busana putih dengan Selendang Pucca merah yang disampirkan pada kedua sisi tubuh.

Penampilan itu menjadi bagian dari konsep “Ulos in Innovation” yang ditampilkan bersama desainer Edward Hutabarat. Konsep tersebut mempertemukan busana modern dengan kain, aksesori, serta benda keseharian dari berbagai wilayah di Sumatra Utara.

Merah putih dan makna kekuatan

Nuansa kemerdekaan dalam rangkaian visual itu juga muncul melalui lukisan besar di belakang Maudy. Karya tersebut berjudul “Great Power of Nusantara” buatan Yayat Surya pada 2005, menggunakan medium acrylic & mixed media on canvas berukuran 150 x 200 sentimeter.

Edward menjelaskan enam garis merah dan putih pada lukisan itu terinspirasi oleh Hexagram 34 I Ching. Simbol tersebut dikaitkan dengan kekuatan dan perubahan, sementara merah dimaknai sebagai semangat serta keberanian dan putih melambangkan kemurnian juga keteguhan.

Perpaduan warna pada lukisan, busana, dan selendang membuat tema merah putih hadir melalui lebih dari satu unsur. Susunan ini menempatkan peringatan kemerdekaan berdampingan dengan cerita kriya dari Tanah Batak.

Benda budaya dalam satu komposisi

Selain Selendang Pucca, pemotretan tersebut memuat sejumlah benda dengan asal dan fungsi yang berbeda. Lifestyle Kompas.com menyebut objek dari Toba, Karo, Tarutung, dan Samosir ditampilkan dalam satu susunan visual.

BendaAsal atau keteranganFungsi
Selendang PuccaBenda vintage dari TobaBagian penutup kepala atau topi penari Tor Tor
SortaliKaroDiikatkan di dahi pengantin
TandokAnyaman pandan dari TarutungTempat hantaran makanan
Lumbung EmeSamosir dan TarutungTempat menyimpan beras atau padi

Sortali dari Karo turut muncul dalam susunan benda yang ditampilkan Edward Hutabarat. Aksesori ini biasanya diikatkan pada dahi pengantin, sehingga memiliki konteks adat yang berbeda dari Selendang Pucca.

Di atas patung kayu berukir dalam komposisi itu terlihat Tandok dari Tarutung. Anyaman pandan tersebut digunakan untuk membawa hantaran makanan.

Patung kayu berukir yang berada di belakang Maudy juga memiliki fungsi khusus. Edward menyebut benda itu sebagai tempat penyimpanan uang para raja Samosir.

Pada bagian bawah komposisi terdapat tempayan besar dari kayu utuh bernama Lumbung Eme. Benda yang disebut berusia sekitar 100 tahun itu digunakan untuk menyimpan beras atau padi di wilayah Samosir dan Tarutung.

Tor Tor sebagai konteks Selendang Pucca

Makna Selendang Pucca berkaitan dengan Tor Tor, salah satu bagian penting dalam kebudayaan Batak. Dalam pelaksanaannya, para penari mengenakan ulos atau kain adat yang diselempangkan di bahu.

Karena itu, Selendang Pucca membawa jejak fungsi pertunjukan dan tradisi ketika dipakai dalam pemotretan. Benda tersebut tidak ditempatkan hanya sebagai aksesori merah untuk melengkapi busana putih.

Edward Hutabarat menggunakan benda-benda tersebut untuk menunjukkan bahwa setiap kriya memiliki kegunaan dan cerita asal masing-masing. Kehadiran Maudy Ayunda dalam konsep itu memperluas perhatian terhadap hubungan antara pakaian kontemporer, seni, dan warisan budaya Nusantara.

Rangkaian visual tersebut juga memperlihatkan bahwa benda tradisional dapat ditampilkan dalam konteks baru tanpa menghapus identitasnya. Selendang Pucca, Sortali, Tandok, dan Lumbung Eme tetap membawa fungsi budaya yang membentuk makna keseluruhan penampilan itu.

Baca Juga