Ngadiyanto dan keluarganya kini menempati rumah apung di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, setelah belasan tahun hidup dalam ancaman rob. Hunian tersebut memberi rasa aman baru, terutama bagi empat anaknya saat cuaca buruk melanda kawasan pesisir.
Perubahan paling terasa dirasakan keluarga itu pada malam hari. Sri Ningsih mengatakan mereka tidak lagi harus menunggu lantai mengering sebelum anak-anak dapat beristirahat.
“Sekarang punya rumah apung, rasanya senang sekali. Anak-anak bisa nyaman bermain dan belajar. Dulu kalau mau tidur harus menunggu kering dulu, sekarang sudah tidak lagi,” ungkap Sri Ningsih.
Program Hunian di Kawasan Terdampak
Pembangunan rumah apung bagi warga terdampak rob dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama sejumlah pihak, termasuk Bank Jateng dan Pemerintah Kabupaten Demak. Program ini menjadi bagian dari penyediaan hunian layak di wilayah yang menghadapi abrasi dan genangan air laut.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan, menyebut program tersebut dilakukan di sejumlah daerah terdampak. Di Demak, pembangunan rumah apung berlangsung melalui beberapa skema pembiayaan pada 2025 dan 2026.
| Tahun | Skema | Jumlah Unit | Penerima atau Status |
|---|---|---|---|
| 2025 | CSR Bank Jateng dan Pemkab Demak | 3 unit | Mulyono, Romani, dan Muslim |
| 2026 | CSR Bank Jateng | 3 unit | Ngadiyanto, Krisma, dan Rokani |
| 2026 | APBD murni | 9 unit | Dalam proses pembangunan |
| 2026 | APBD Perubahan | 8 unit | Direncanakan |
Pada 2025, tiga unit dibangun melalui dukungan CSR Bank Jateng dan Pemerintah Kabupaten Demak untuk Mulyono, Romani, serta Muslim. Tahun berikutnya, tiga unit lain dari CSR Bank Jateng diperuntukkan bagi Ngadiyanto, Krisma, dan Rokani.
Selain bantuan yang telah disalurkan, sembilan rumah apung sedang dibangun melalui APBD murni 2026. Delapan unit tambahan juga direncanakan melalui APBD Perubahan 2026.
Daratan yang Terus Tergerus
Kebutuhan akan hunian yang lebih aman muncul dari perubahan besar yang dialami warga Timbulsloko sejak air laut mulai masuk pada 2006. Rob datang semakin sering dan tinggi, sehingga mengubah ruang tinggal sekaligus pola penghidupan masyarakat setempat.
Sebelum wilayahnya tergenang, Ngadiyanto bekerja sebagai petani karena lahan di sekitar rumah masih dapat ditanami. Ketika air laut meluas, ia beralih menjadi petambak udang untuk mempertahankan penghasilan keluarga.
Namun, perubahan pekerjaan itu tidak sepenuhnya menghilangkan dampak abrasi. Daratan di kawasan tersebut terus tergerus hingga sekitar 2011, termasuk area yang sebelumnya menjadi halaman rumah dan ruang aktivitas warga.
Bagi Ngadiyanto, kondisi paling mengkhawatirkan terjadi ketika badai datang. Ia harus membawa anak-anaknya mengungsi sementara ke rumah tetangga yang dinilai lebih aman.
“Kalau ada badai, anak-anak saya bawa mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman,” tutur Ngadiyanto. Pengalaman itu menggambarkan kerentanan keluarga yang hidup di tengah rob di Desa Timbulsloko.
Ruang Baru untuk Menata Kehidupan
Rumah apung tidak hanya menggantikan bangunan yang terdampak air laut, tetapi juga menyediakan ruang yang lebih layak untuk kegiatan keluarga. Anak-anak Ngadiyanto kini dapat bermain dan belajar tanpa gangguan lantai rumah yang sebelumnya kerap basah.
Program pembangunan tersebut dijalankan di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Dukungan CSR, pemerintah kabupaten, dan anggaran daerah dipakai dalam tahapan pembangunan yang berbeda.
Di tengah rob dan abrasi yang terus mengubah lanskap pesisir Demak, hunian baru itu menjadi perlindungan penting bagi keluarga Ngadiyanto. Rumah apung memberi mereka kesempatan menjalani hari-hari dengan rasa aman yang sebelumnya sulit diperoleh.






