
Kolombia Tegaskan Perang Narkoba Meski Dapat Ancaman Trump
koranindonesia.id – Pemerintah Kolombia menegaskan komitmen kerja sama dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul setelah ancaman operasi militer dari Washington.
Pemerintah di Bogota menilai koordinasi tetap penting.
Kolombia ingin menjaga stabilitas kawasan dan hubungan bilateral.
“Baca Juga: Dunia Kecam Serangan AS dan Penangkapan Presiden Venezuela“
Menteri Dalam Negeri Kolombia, Armando Benedetti, menyampaikan sikap resmi pemerintah.
Ia berbicara bersama Menteri Kehakiman Andres Idarraga melalui rekaman video.
Benedetti menegaskan Kolombia terus bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Pemerintah menilai kerja sama ini krusial dalam melawan perdagangan narkoba.
Selain itu, ia menekankan koordinasi lintas negara tetap berjalan aktif.
Kolombia tidak mengubah arah kebijakan keamanan nasional.
Benedetti menjelaskan target utama operasi anti-narkoba.
Aparat menindak laboratorium narkoba dan jaringan kriminal.
Selain itu, pasukan keamanan membongkar kamp kelompok bersenjata.
Pemerintah menilai langkah ini efektif menekan produksi narkoba.
Sementara itu, Idarraga menyoroti wilayah perbatasan.
Kolombia memprioritaskan area perbatasan Kolombia–Venezuela.
Menurutnya, wilayah ini rawan aktivitas ilegal.
Karena itu, negara meningkatkan pengawasan dan operasi gabungan.
Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan pernyataan kontroversial.
Ia menyebut pemerintah Bogota dikuasai pihak yang memproduksi kokain.
Trump mengarahkan kritik kepada Presiden Kolombia, Gustavo Petro.
Ia menilai kepemimpinan Petro tidak akan bertahan lama.
Pernyataan ini memicu reaksi internasional.
Banyak pihak menilai ucapan Trump meningkatkan ketegangan regional.
Wartawan kemudian menanyakan maksud pernyataan Trump.
Mereka menyinggung kemungkinan operasi militer AS.
Trump menjawab dengan nada positif.
Ia mengatakan gagasan tersebut terdengar baik baginya.
Pernyataan ini memicu kekhawatiran di Amerika Latin.
Beberapa negara mengingatkan risiko eskalasi konflik.
Sebelumnya, AS melancarkan operasi militer ke Venezuela.
Operasi tersebut menargetkan pemerintah Venezuela.
Dalam operasi itu, AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Penangkapan tersebut mengejutkan komunitas internasional.
Trump kemudian membuka kemungkinan operasi lanjutan.
Ia memberi syarat kerja sama dari sisa pemerintahan Venezuela.
Di tengah tekanan tersebut, Kolombia memilih pendekatan diplomatik.
Pemerintah menegaskan fokus pada kerja sama dan keamanan regional.
Kolombia ingin menekan narkoba tanpa konflik militer.
Pemerintah berharap dialog tetap menjadi jalur utama penyelesaian.
“Baca Juga: Bareskrim Tetapkan Tersangka Individu Kasus Kayu Gelondongan Sumut“