
7 Pesawat AS Jatuh di Perang Iran, Ini Rinciannya
koranindonesia.id – Angkatan Udara Amerika Serikat menghadapi kerugian besar dalam konflik dengan Iran. Laporan terbaru menyebutkan setidaknya tujuh pesawat hilang.
Pada 4 April 2026, dua jet tempur jatuh dalam satu hari. Insiden ini terjadi dalam dua kejadian terpisah.
Jet tempur F-15 dan A-10 Warthog menjadi korban terbaru. Kedua pesawat tersebut memperbesar total kerugian yang dialami AS.
“Baca Juga: Artemis II Bermasalah: Toilet Orion Ganggu Misi“
Sebelumnya, insiden serius terjadi pada 2 Maret 2026. Tiga pesawat F-15 ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait.
Kejadian ini terjadi akibat kesalahan identifikasi target. Sistem pertahanan mengira pesawat tersebut sebagai ancaman.
Namun, keenam awak pesawat berhasil menyelamatkan diri. Mereka menggunakan sistem pelontar darurat dengan tepat.
Selain itu, Menteri Pertahanan AS memastikan para pilot kembali bertugas. Mereka bahkan melanjutkan misi dalam konflik yang sama.
Kemudian, insiden tragis terjadi pada 12 Maret 2026. Sebuah pesawat tanker KC-135 jatuh di wilayah Irak.
Kecelakaan ini menewaskan enam personel militer AS. Pesawat tersebut terlibat dalam operasi militer saat kejadian.
Selain itu, laporan menyebut pesawat mengalami insiden dengan pesawat lain. Namun, pesawat kedua berhasil mendarat dengan aman.
Pada 27 Maret 2026, Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS. Serangan ini terjadi di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi.
Serangan tersebut menghancurkan pesawat E-3 Sentry yang berada di darat. Selain itu, beberapa personel militer mengalami luka.
Setidaknya sepuluh anggota militer AS mengalami cedera. Namun, laporan tidak menyebutkan korban jiwa dalam insiden ini.
Selain itu, serangan tersebut juga merusak pesawat tanker lainnya. Kerusakan ini menambah tekanan bagi militer AS.
Dalam insiden terpisah, jet tempur F-35 mengalami masalah serius. Pesawat ini terkena tembakan saat menjalankan misi.
Pilot kemudian memutuskan melakukan pendaratan darurat. Ia mendarat di pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.
Langkah cepat tersebut menyelamatkan pesawat dan pilot. Namun, insiden ini menunjukkan risiko tinggi di wilayah konflik.
Konflik antara AS dan Iran meningkat sejak akhir Februari 2026. AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan pada 28 Februari.
Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.340 orang. Termasuk di dalamnya pemimpin tertinggi Iran saat itu.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal. Target mereka mencakup Israel dan beberapa negara di kawasan.
Selain itu, Iran juga menargetkan negara yang menampung aset militer AS. Kawasan Timur Tengah kini berada dalam kondisi siaga tinggi.
Hingga kini, situasi belum menunjukkan tanda mereda. Kedua pihak terus meningkatkan kekuatan militer mereka.
Selain itu, insiden di udara dan darat terus terjadi. Hal ini meningkatkan risiko eskalasi konflik lebih besar.
Dengan berbagai kerugian yang terjadi, konflik ini menjadi perhatian dunia. Banyak pihak berharap ketegangan segera mereda.
“Baca Juga: Kemenkes Imbau Waspada Campak di Fasilitas Kesehatan“