Kenaikan 15 Persen Saham ISAT Bertumpu pada Zankore yang Masih Mahal

Kenaikan 15 persen saham ISAT dalam sepekan setelah peluncuran Zankore menunjukkan besarnya harapan pasar terhadap bisnis komputasi kecerdasan buatan. Optimisme itu muncul sebelum fasilitas AI Factory mulai beroperasi dan sebelum kontribusi labanya terbukti dalam kinerja Indosat.

Zankore diluncurkan pada 6 Agustus 2026 sebagai proyek bersama Indosat, Ooredoo Group, NVIDIA, dan Nokia. Proyek ini membidik kebutuhan komputasi AI di kawasan Asia-Pasifik dengan skala investasi yang sangat besar.

Pasar Menunggu Eksekusi Proyek AI

Fasilitas awal Zankore akan memiliki kapasitas AI sekitar 200 MW dan ditargetkan rampung pada semester I/2027. Pengembangannya diarahkan menuju NVIDIA DSX AI Factory berkapasitas 1 GW.

Indosat akan menggunakan sistem NVIDIA GB300 NVL72 pada tahap pertama pembangunan. Sistem NVIDIA DSX MaxLPS juga direncanakan terintegrasi untuk mengoptimalkan pemakaian daya pada lapisan GPU.

KomponenTahap Awal ZankoreTarget Pengembangan
Kapasitas AI200 MW1 GW
Teknologi utamaNVIDIA GB300 NVL72NVIDIA DSX AI Factory
Jadwal fasilitas awalSemester I/2027Tidak disebutkan

Teknologi pengelolaan daya tersebut dirancang agar kapasitas komputasi bisa meningkat lebih dari 40 persen dalam batas daya yang tersedia. Keberhasilan penerapannya akan menentukan seberapa efisien fasilitas memanfaatkan investasi perangkat keras yang mahal.

Modal US$5,9 Miliar Menjadi Taruhan

Menurut riset Mirae Asset Sekuritas yang dikutip mikirduit.com, kebutuhan belanja modal Zankore diperkirakan mencapai US$5,9 miliar. Sekitar 90 persen dana dialokasikan untuk critical IT load sekitar 200 MW.

Kapasitas efektif komputasi diproyeksikan mencapai 180 MW. Dengan kebutuhan listrik 135 kW untuk setiap rak GB300 NVL72, fasilitas itu disebut dapat menampung sekitar 1.333 rak atau 96.000 GPU.

Dengan asumsi harga US$3,85 juta per rak, kebutuhan modal GPU diperkirakan mencapai US$5,1 miliar. Tambahan alokasi 15 persen untuk jaringan, penyimpanan data, dan fit-out membawa biaya proyek ke kisaran US$29,5 juta per MW.

Nilai tersebut masih berada dalam rentang industri sebesar US$25 juta hingga US$40 juta per MW. Namun, besarnya aset GPU, server, pendingin cair, jaringan, dan infrastruktur pusat data juga menciptakan risiko depresiasi yang besar.

Pendapatan Tinggi Belum Menjamin Laba Bersih

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan Zankore dapat membukukan pendapatan US$2,9 miliar dan EBITDA US$2 miliar. Laba bersih proyek diproyeksikan mencapai US$1,1 miliar, dengan bagian laba untuk Indosat sekitar Rp1,4 triliun per tahun mulai tahun buku 2028.

Asumsi kepemilikan ISAT sebesar 30 persen juga menghasilkan estimasi kontribusi terhadap ekuitas Indosat senilai Rp8,8 triliun. Proyeksi ini memerlukan realisasi permintaan komputasi AI yang cukup tinggi untuk menopang utilisasi fasilitas.

IndikatorZankoreCoreWeave Kuartal II/2026
Kapasitas200 MW pada tahap awal1,5 GW
PendapatanProyeksi US$2,9 miliarUS$2,58 miliar
Laba bersihProyeksi US$1,1 miliarRugi US$626 juta

CoreWeave memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendapatan AI Factory dapat tetap dibayangi tekanan laba bersih. Operator berkapasitas sekitar 1,5 GW itu membukukan pendapatan US$2,58 miliar pada kuartal II/2026, tetapi rugi bersihnya mencapai US$626 juta.

Pendapatan CoreWeave tumbuh 112 persen, sedangkan EBITDA disesuaikan meningkat 101 persen menjadi US$1,51 miliar. Beban depresiasi dan bunga menjadi tekanan utama, sehingga kerugiannya lebih besar dibandingkan US$290 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dukungan Ooredoo dan Penilaian Pasar

Ooredoo Group menjadi sponsor utama dengan penyediaan modal jangka panjang dan perluasan jangkauan regional. Indosat juga memperoleh suntikan modal US$800 juta dari Ooredoo untuk mendukung pengembangan proyek.

NVIDIA menyediakan komputasi terakselerasi, perangkat lunak AI, GPU generasi baru, serta akses ke ekosistem AI global. Nokia mengambil peran pada penyediaan jaringan berbasis AI untuk menopang operasional fasilitas.

Mirae Asset Sekuritas menetapkan target harga Saham ISAT Rp2.700 per saham, sementara Indopremier menetapkan target Rp3.600 per saham. Perhitungan yang memasukkan tambahan laba Rp1,4 triliun pada 2028 menghasilkan nilai wajar sekitar Rp3.030 per saham.

Target tersebut tetap sangat bergantung pada penyelesaian fasilitas, permintaan komputasi, dan struktur pembiayaan proyek. Apabila biaya GPU, depresiasi, atau beban bunga membengkak, ambisi AI Factory ini dapat berubah menjadi tekanan bagi kinerja Indosat.

Baca Juga