Karya Indonesia Menembus Dunia, Pasar Domestik dan Distribusi Masih Rapuh

Keberhasilan karya dan seniman Indonesia di panggung internasional belum otomatis berarti industri kreatif Indonesia telah memiliki fondasi global yang kuat. Tantangan terbesarnya justru terletak pada kemampuan membangun distribusi, infrastruktur, dan strategi yang membuat karya lokal beredar secara berkelanjutan.

Pengamat budaya populer Hikmat Darmawan menilai kualitas talenta Indonesia tidak lagi perlu dipertanyakan. Persoalannya adalah memastikan kualitas tersebut dapat menjangkau audiens yang tepat sekaligus menghasilkan arus pendapatan bagi lebih banyak pelaku kreatif.

Menurut Hikmat, sebuah karya yang sangat baik tetap dapat kehilangan peluang apabila tidak ditopang saluran distribusi yang memadai. Kondisi itu membuat nilai intrinsik karya belum tentu berubah menjadi dampak ekonomi yang luas.

“Dari dulu kita selalu punya potensi yang bagus. Cuma kita bisa terjebak middle-income trap. Itu karena infrastruktur maupun strateginya keropos,” kata Hikmat kepada CNN Indonesia.

Jalur yang ditempuh sejumlah musisi memperlihatkan keragaman ekosistem yang dapat membawa talenta Indonesia ke luar negeri. Rich Brian berkembang melalui hip-hop, sedangkan Homicide dan Voice of Baceprot menunjukkan peluang dari jalur musik serta subkultur yang berbeda.

Agnez Mo dan Anggun telah dikenal lewat perjalanan karier di negara-negara Barat, sementara no na memperoleh perhatian yang semakin luas. Sejumlah musisi Indonesia juga aktif menggelar konser di luar negeri dengan jalur promosi dan basis pendengar masing-masing.

Jejak lintas negara yang panjang

Kehadiran Indonesia dalam percakapan budaya global bukan semata fenomena baru. Hikmat mengingatkan bahwa film Indonesia telah mengikuti festival internasional sejak dekade 1960-an.

Film Badai Selatan yang dirilis pada 1961 tercatat mengikuti kompetisi Festival Film Internasional Berlin pada 1962. Perkembangan saat ini terutama terlihat pada perubahan metode produksi dan cara karya-karya Indonesia bersirkulasi ke berbagai negara.

Film IndonesiaTahun
Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas2021
Before, Now & Then (Nana)2022
Jumbo2025

Sejumlah film Indonesia tersebut turut memperlihatkan bahwa karya lokal dapat memperoleh ruang dalam percakapan budaya di luar negeri. Namun, akses menuju komunitas penonton internasional belum selalu menciptakan sistem ekonomi yang stabil untuk pelaku kreatif dalam jumlah lebih besar.

Pasar dalam negeri tidak boleh tertinggal

Hikmat menilai ambisi internasional tidak harus selalu berpusat pada Amerika Serikat atau Eropa. Pasar regional dan negara-negara global south juga menawarkan ruang pertumbuhan bagi karya Indonesia.

Meski demikian, pasar domestik tetap menjadi pekerjaan besar yang perlu digarap lebih serius. Dengan populasi lebih dari 200 juta orang, Indonesia memiliki basis audiens besar yang menentukan keberlanjutan pendapatan seniman dan produser budaya.

“Sudah digarap optimal belum pasar di dalam negeri, pasar domestik?” ujar Hikmat. Baginya, ukuran penting keberhasilan bukan hanya pengakuan di luar negeri, melainkan arus pendapatan yang memungkinkan para pelaku berkarya secara berkelanjutan.

Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, capaian individu diharapkan dapat berkembang menjadi ekosistem yang lebih luas. Penguatan distribusi karya lokal dan pasar domestik akan menentukan apakah keberhasilan segelintir nama mampu membuka jalan ekonomi bagi lebih banyak seniman Indonesia.

Baca Juga