
Iran Matikan Internet Saat Protes Besar Meluas
koranindonesia.id – Pemerintah Iran menutup akses internet secara nasional pada Kamis, 9 Januari 2026.
Langkah ini muncul saat gelombang protes anti-pemerintah meluas di banyak kota.
Kelompok pemantau internet global NetBlocks melaporkan pemadaman terjadi saat situasi keamanan memburuk.
Kerusuhan terus berkembang dan memicu kekhawatiran eskalasi nasional.
Hingga kini, pemerintah Iran belum menjelaskan durasi pemadaman tersebut.
Otoritas juga belum menyampaikan wilayah mana saja yang terdampak penuh.
“Baca Juga: Kejagung Jelaskan Alasan TNI Amankan Sidang Nadiem Makarim“
Aksi protes telah berlangsung sejak akhir Desember 2025.
Demonstrasi muncul akibat tekanan ekonomi yang semakin berat.
Warga memprotes lonjakan biaya hidup dan inflasi tinggi.
Nilai mata uang melemah di tengah krisis ekonomi berkepanjangan.
Sanksi internasional memperparah kondisi ekonomi domestik.
Situasi ini mendorong kemarahan publik di berbagai lapisan masyarakat.
Aksi protes menyebar ke kota besar dan kota kecil.
Banyak warga turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan ekonomi dan politik.
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bentrokan terjadi di banyak wilayah.
Aparat keamanan terlibat konfrontasi dengan massa demonstran.
Sedikitnya 21 orang dilaporkan tewas sejak protes berlangsung.
Jumlah korban dikhawatirkan masih bisa bertambah.
Sejumlah demonstran menuntut pembebasan rekan mereka yang ditahan.
Massa juga menolak tindakan represif aparat keamanan.
Kantor berita Tasnim merilis video dari kota Qazvin.
Video tersebut memperlihatkan dugaan serangan terhadap seorang petugas keamanan.
Menurut Tasnim, petugas tersebut tidak membawa senjata.
Ia disebut hanya meminta massa menyampaikan aspirasi secara damai.
Tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, menyerukan kelanjutan protes.
Ia merupakan putra mendiang Shah Iran yang terguling pada 1979.
Dalam video di platform X, Pahlavi mengajak warga tetap turun ke jalan.
Ia menilai tekanan publik perlu terus dilakukan.
Seruan tersebut mendapat perhatian luas di media sosial.
Namun, akses internet yang terputus membatasi penyebaran informasi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan kepada pemasok dalam negeri.
Ia meminta pelaku usaha tidak menimbun barang kebutuhan pokok.
Pezeshkian juga melarang kenaikan harga sepihak.
Ia menegaskan masyarakat harus mendapat pasokan barang yang cukup.
Pemerintah diminta memperketat pengawasan harga di seluruh wilayah.
Langkah ini bertujuan meredam keresahan publik.
Namun, sikap berbeda datang dari Pemimpin Tertinggi Iran.
Ali Khamenei menegaskan para perusuh harus diberi pelajaran.
Ketua Mahkamah Agung Iran turut menyampaikan tudingan keras.
Ia menuduh demonstran bertindak sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Pengamat menilai pemadaman internet bertujuan membatasi koordinasi massa.
Langkah ini juga menghambat penyebaran informasi ke luar negeri.
Pemutusan akses sering digunakan saat protes besar terjadi.
Namun, kebijakan ini memicu kritik dari komunitas internasional.
Situasi di Iran masih terus berkembang.
Dunia kini menunggu langkah lanjutan pemerintah menghadapi krisis ini.
“Baca Juga: Trump Tegaskan AS Tak Perlu Tunduk pada Hukum Internasional“