Harga emas pulih 9 persen hingga berada di sekitar 4.400 dolar AS per troy ounce pada Selasa, 18 Agustus 2026. Kenaikan tajam ini membawa pasar mendekati level teknikal penting di 4.504 dolar AS, yang berpotensi menentukan kelanjutan reli.
Level 4.504 dolar AS merupakan rata-rata pergerakan 200 hari dan dipandang sebagai resistensi kuat berikutnya. Jika harga gagal melampauinya, laju kenaikan yang cepat dapat menghadapi jeda dalam jangka pendek.
Indikator Relative Strength Index atau RSI juga telah mendekati area jenuh beli. Kondisi tersebut menunjukkan harga emas telah bergerak cukup cepat, sehingga investor tetap perlu mencermati risiko koreksi teknikal.
| Indikator | Data Terkini | Arti bagi Pasar |
|---|---|---|
| Pemulihan emas | Naik 9 persen ke 4.400 dolar AS per troy ounce | Minat beli kembali menguat |
| Resistensi teknikal | 4.504 dolar AS | Menjadi batas kenaikan berikutnya |
| RSI emas | Mendekati area jenuh beli | Ada risiko jeda teknikal |
| Arus dana ETF | Tambah 7 miliar dolar AS | Masuknya dana masih lambat |
Penguatan kali ini terutama ditopang kembalinya pembelian dari institusi besar. Aktivitas tersebut terlihat pada perdagangan emas batangan berukuran besar di sejumlah pusat pasar Asia, termasuk China.
Premi perdagangan yang tinggi di kawasan itu mengindikasikan sovereign wealth funds dan bank sentral mulai kembali mengumpulkan emas. Permintaan institusional menjadi penyangga harga ketika pembelian fisik dari sektor lain belum sepenuhnya pulih.
Pembelian Institusi Menjadi Penopang
James Steel, Kepala Analis Logam Mulia HSBC, menilai pembelian tersebut berkaitan dengan upaya membangun kembali posisi kepemilikan sebelum konflik Iran terjadi. “Menurut saya, ini sebenarnya merupakan upaya institusi besar untuk membangun kembali posisi kepemilikan emas yang mereka miliki sebelum konflik di Iran terjadi,” ujarnya.
Arus dana ke ETF emas belum menunjukkan kekuatan yang sama dengan pembelian institusional di pasar fisik. Data World Gold Council mencatat tambahan dana sebesar 7 miliar dolar AS pada paruh pertama Agustus 2026, dengan total dana kelolaan mencapai 582 miliar dolar AS.
Permintaan perhiasan fisik juga masih lesu meski harga telah pulih. Perbedaan ini memperlihatkan reli emas saat ini lebih banyak ditopang oleh akumulasi pemain besar daripada permintaan konsumen yang meluas.
Minyak dan Timur Tengah Tetap Menjadi Risiko
Sentimen pasar berubah setelah kejutan awal konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai mereda. Sepanjang Agustus 2026, emas berhasil menembus dua level resistensi utama di tengah penurunan harga minyak dunia dan perlambatan inflasi Amerika Serikat.
Ross Norman, analis independen, menggambarkan perubahan tersebut sebagai pelepasan tekanan yang sebelumnya membatasi pergerakan emas. “Rasanya seolah-olah ‘rem tangan’ yang selama ini menahan pergerakan emas akhirnya telah dilepaskan,” ujarnya.
Namun, harga minyak tetap menjadi variabel utama yang dapat mengubah arah pasar secara cepat. Lonjakan energi akibat eskalasi baru di Timur Tengah berpotensi mengubah perhitungan investor dan membatasi ruang penguatan emas.
Steel menilai prospek kenaikan emas lebih kondusif apabila minyak tidak kembali menjadi fokus utama pasar. Menurutnya, kondisi itu menandakan ketegangan regional tidak berkembang hingga memicu lonjakan harga minyak.
Perundingan damai yang masih tertahan membuat risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Pasar emas kini bergerak di antara dorongan pembelian institusional, batas teknikal yang semakin dekat, serta kewaspadaan terhadap perkembangan konflik dan energi global.






