Gempa Flores Menyisakan 5.900 Pengungsi, Kebutuhan Anak Tak Boleh Terabaikan

Lebih dari 5.900 warga masih bertahan di pengungsian setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Di tengah kebutuhan air minum, makanan, kebersihan, dan tempat beristirahat yang mendesak, perhatian terhadap anak-anak dan perempuan juga menjadi bagian penting dari respons darurat.

Plan Indonesia telah menyalurkan lebih dari 250 paket bantuan darurat ke lima titik pengungsian di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, dan Sikka. Bantuan awal ini ditujukan untuk membantu keluarga terdampak sambil kebutuhan lanjutan dipetakan di setiap wilayah.

Kebutuhan Perempuan dan Anak di Pengungsian

Paket bantuan yang dibagikan mencakup perlengkapan kebersihan keluarga, perlengkapan kebersihan menstruasi, perlengkapan hunian sementara, air minum kemasan, serta makanan ringan. Plan Indonesia juga menyalurkan alat permainan edukatif atau APE bagi anak-anak terdampak gempa.

APE disediakan agar anak-anak tetap memiliki ruang bermain ketika rutinitas mereka terputus akibat bencana. Gempa dapat menghilangkan rasa aman dan memicu tekanan psikologis, sehingga ruang bermain dipandang penting bagi anak di lokasi pengungsian.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti menekankan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar tidak boleh mengabaikan kebutuhan spesifik kelompok rentan. Anak perempuan, remaja perempuan, dan perempuan menghadapi persoalan tambahan, terutama akses sanitasi serta kebutuhan kebersihan menstruasi yang layak.

“Dalam situasi darurat, kebutuhan dasar seperti air minum, kebersihan, tempat untuk beristirahat, dan makanan memang menjadi prioritas,” kata Dini Widiastuti. Ia menilai anak-anak perlu memiliki ruang bermain dan rasa aman, sementara perempuan perlu dapat memenuhi kebutuhan kebersihan menstruasi secara layak dan bermartabat.

Kaji Cepat untuk Menentukan Bantuan Lanjutan

Plan Indonesia mengerahkan 16 anggota tim tanggap darurat bencana ke lima kabupaten terdampak untuk melakukan Rapid Needs Assessment atau kaji cepat kebutuhan. Penilaian lapangan ini diperlukan karena kondisi dan kebutuhan warga di setiap wilayah tidak dapat disamakan.

Kaji cepat tersebut memberi perhatian kepada anak-anak, khususnya anak dan remaja perempuan, perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya. Hasilnya akan digunakan untuk menyiapkan bantuan yang relevan dan tepat sasaran sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan.

Selama berada di pengungsian, anak perempuan dapat menghadapi keterbatasan akses sanitasi, kehilangan ruang aman, dan risiko kekerasan. Karena itu, respons kemanusiaan diarahkan tidak hanya pada pemenuhan logistik, tetapi juga perlindungan hak serta kebutuhan kelompok rentan.

Dampak Gempa di Lima Kabupaten

Menurut data BNPB per 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB, gempa yang berpusat di Laut Flores telah memicu 341 kali gempa susulan. Bencana tersebut menyebabkan 51 orang meninggal dunia dan 101 orang mengalami luka-luka.

Kerusakan turut mengenai rumah warga, fasilitas pendidikan, dan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Gangguan pada sekolah berpotensi menghambat kegiatan belajar anak, sedangkan fasilitas kesehatan tetap dibutuhkan untuk melayani warga selama masa pengungsian.

Dampak yang Dicatat BNPBJumlah
Gempa susulan341 kali
Korban meninggal dunia51 orang
Korban luka-luka101 orang
Warga di pengungsianLebih dari 5.900 orang
Rumah rusak914 unit
Fasilitas pendidikan terdampak93 unit
Fasilitas kesehatan terdampak36 unit

Pengungsian terutama menampung warga dari Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Nagekeo. Bantuan yang telah disalurkan di lima kabupaten diharapkan dapat menjawab kebutuhan mendesak keluarga penyintas sambil pemetaan kebutuhan lanjutan terus dilakukan.

Baca Juga