Keberhasilan Inter Milan meraih Coppa Italia dan Liga Italia di bawah Cristian Chivu menjadi jawaban atas keraguan yang muncul saat ia ditunjuk sebagai pelatih. Pencapaian itu membuat transisi setelah era Simone Inzaghi tidak berujung pada penurunan ambisi di tingkat domestik.
Chivu datang dengan beban besar karena menggantikan pelatih yang meninggalkan sejumlah prestasi penting. Namun, hasil di lapangan menunjukkan bahwa mantan pelatih Parma tersebut mampu menjaga Nerazzurri tetap bersaing untuk gelar.
Warisan Besar yang Harus Dilanjutkan
Pergantian pelatih terjadi setelah Inter kalah 0-5 dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions 2024/2025. Saat itu, penunjukan Chivu sempat dipertanyakan karena ia belum memiliki pengalaman panjang menangani klub besar.
Keraguan tersebut juga berkaitan dengan rekam jejak Inzaghi selama menangani Inter. Pelatih sebelumnya itu meninggalkan standar tinggi melalui gelar domestik dan dua penampilan sebagai runner-up Liga Champions.
| Pelatih | Konteks di Inter | Pencapaian yang Disebut |
|---|---|---|
| Cristian Chivu | Pengganti Simone Inzaghi, eks pelatih Parma | Coppa Italia dan Liga Italia |
| Simone Inzaghi | Pelatih sebelum Chivu | 1 Scudetto, 2 Coppa Italia, 3 Supercoppa Italia, 2 kali runner-up Liga Champions |
Keberhasilan Chivu tidak hanya dipandang sebagai kelanjutan hasil yang telah dibangun sebelumnya. Gelar Coppa Italia dan Liga Italia memperlihatkan bahwa Inter mampu melewati masa pergantian pelatih dengan tetap menjaga daya saingnya.
Di balik hasil itu, gelandang Hakan Calhanoglu menilai ada cara kepemimpinan Chivu yang memberi pengaruh langsung terhadap suasana skuad. Menurutnya, pelatih asal Rumania tersebut memberi perhatian pada keadaan personal pemain, bukan semata persoalan taktik.
Rasa Nyaman di Tengah Tekanan
Calhanoglu menyebut kepercayaan diri sebagai unsur penting dalam kehidupan sehari-hari tim. Ia melihat Chivu berusaha menciptakan ruang agar setiap pemain dapat bekerja dengan lebih tenang di tengah tuntutan besar klub.
“Dia memberikan kepercayaan diri agar Anda merasa nyaman,” kata Calhanoglu dalam kutipan yang dimuat Football Italia. Penilaian itu menegaskan bahwa kenyamanan pemain menjadi bagian dari pendekatan kepemimpinan sang pelatih.
Bagi Calhanoglu, perhatian semacam itu tidak mengurangi fokus Chivu terhadap aspek teknis permainan. Sebaliknya, kedekatan dengan pemain disebut berjalan beriringan dengan persiapan menghadapi pertandingan dan latihan.
Taktik yang Disertai Kedekatan
Chivu tetap memiliki pendekatan taktis yang kuat ketika menyusun latihan dan memimpin tim dalam pertandingan. Akan tetapi, Calhanoglu menilai kelebihan pelatihnya terletak pada kemampuan menyeimbangkan tuntutan teknis dengan hubungan yang lebih manusiawi.
“Tentu saja, dia memiliki pendekatan taktis dalam pertandingan dan latihan, tetapi di luar sepak bola, dia seperti saudara atau teman,” ujar Calhanoglu. Ia menilai pemain memiliki kesempatan untuk membicarakan berbagai persoalan secara terbuka dengan pelatihnya.
Gelandang asal Turki itu juga mengaku mendapat bantuan Chivu ketika harus menyelesaikan sejumlah persoalan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa peran pelatih di ruang ganti tidak hanya terbatas pada pemberian instruksi di lapangan.
Pendekatan personal itu dinilai membantu pemain merasa didengar dan dipercaya. Dalam kondisi kompetisi yang menekan, rasa saling percaya tersebut dapat menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas skuad.
Prestasi Inter di bawah Chivu pada akhirnya memberi gambaran bahwa pergantian pelatih tidak selalu harus mengubah arah tim secara drastis. Perpaduan antara persiapan taktis dan kepedulian terhadap pemain menjadi bagian dari fondasi yang mengantar klub meraih dua trofi.






