
Banjir Besar Thailand Tewaskan 33 Orang dan Rusak Banyak Wilayah
koranindonesia.id – Beberapa wilayah di Thailand mengalami banjir besar yang memecahkan rekor. Banjir melanda sepuluh provinsi di wilayah selatan selama satu minggu terakhir. Pemerintah Thailand melaporkan bahwa bencana ini menewaskan setidaknya 33 orang.
Kota Hat Yai menerima curah hujan 335 mm dalam satu hari. Data tersebut berasal dari laporan BBC yang mencatat bahwa angka ini menjadi yang tertinggi dalam 300 tahun. Hujan ekstrem membuat air naik dengan cepat dan menenggelamkan jalan serta permukiman.
“Baca Juga: Kapolda Sumut Nonaktifkan Kabid Propam Terkait Dugaan Pemerasan“
Pihak berwenang mengerahkan kapal militer, helikopter, perahu, truk tinggi, dan jet ski untuk membantu masyarakat. Gubernur Songkhla menjelaskan bahwa banyak warga terjebak di rumah mereka. Mereka menunggu pertolongan dari atap karena air terus naik.
Kabinet Thailand menyatakan provinsi Songkhla sebagai zona bencana. Status ini membuka akses terhadap dana bantuan untuk penanganan banjir. Foto-foto lapangan menunjukkan kendaraan dan rumah tenggelam dalam genangan air yang mencapai atap bangunan.
Hujan deras tidak hanya melanda Thailand. Negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia juga menghadapi situasi darurat. Vietnam melaporkan 98 korban tewas dalam satu minggu. Jumlah tersebut meningkat seiring meluasnya genangan air di wilayah pedesaan.
Malaysia mengevakuasi lebih dari 19.000 penduduk dari wilayah rawan banjir. Pemerintah setempat mendirikan 126 pusat evakuasi untuk menampung para pengungsi. Di Kelantan dan Perlis, tim penyelamat menembus banjir setinggi lutut untuk mengevakuasi warga. Banyak desa terisolasi karena akses jalan terputus air.
Reuters melaporkan bahwa lebih dari dua juta penduduk Thailand terdampak banjir. Namun, hanya sekitar 13.000 orang yang berhasil dievakuasi ke penampungan. Banyak warga terputus dari akses bantuan karena jalan tidak dapat dilalui petugas.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi pemerintah. Banyak warga membutuhkan makanan, obat-obatan, dan akses kesehatan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi tim darurat yang bekerja di lapangan.
Militer Thailand menyiapkan kapal induk dan 14 kapal besar untuk membawa bantuan logistik. Mereka membawa peralatan dapur umum yang mampu menyediakan 3.000 porsi makanan setiap hari. Otoritas militer menjelaskan bahwa kapal induk dapat berubah menjadi rumah sakit terapung jika situasi memburuk.
Tim medis di kapal siap membantu warga yang terluka atau sakit. Kehadiran rumah sakit terapung memberi harapan bagi warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan di daratan.
Malaysia mempercepat evakuasi warga di daerah perbatasan utara. Tim penyelamat mengevakuasi penduduk yang terjebak di daerah dengan akses tertutup. Mereka menggunakan perahu dan kendaraan tinggi untuk membawa warga ke lokasi aman.
Warga di Kelantan dan Perlis menghadapi air yang terus naik. Mereka membutuhkan bantuan cepat karena banyak desa terendam dalam waktu singkat. Pemerintah Malaysia menyiapkan lebih banyak pusat bantuan untuk mengurangi tekanan di wilayah terdampak.
Banjir ekstrem di Thailand memberi dampak besar pada jutaan penduduk. Negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia juga menghadapi situasi serupa. Pemerintah di wilayah Asia Tenggara harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi. Bencana ini menunjukkan pentingnya koordinasi regional untuk menangani ancaman iklim yang terus meningkat.
“Baca Juga: TNI Siapkan Pasukan Elite untuk Misi Perdamaian di Gaza“