
Banjir Bandang Terjang Safi Maroko, 21 Orang Tewas
koranindonesia.id – Banjir bandang melanda kota pesisir Safi, Maroko, pada Minggu, 14 Desember 2025. Hujan deras yang turun secara mendadak memicu luapan air di sejumlah kawasan kota. Akibat kejadian tersebut, setidaknya 21 orang meninggal dunia.
Pihak berwenang setempat menyampaikan data korban setelah proses evakuasi awal. Safi terletak sekitar 300 kilometer di selatan Rabat. Kota ini berada di sepanjang pantai Atlantik.
“Baca Juga: Cyberbullying Marak, Literasi Digital Jadi Benteng Publik“
Rekaman media sosial menunjukkan derasnya arus air berlumpur di pusat kota. Air menyeret mobil, tempat sampah, dan berbagai benda lainnya. Arus deras menguasai jalan utama dan kawasan permukiman warga.
Selain itu, banjir merendam kawasan kota tua yang memiliki nilai sejarah tinggi. Sedikitnya 70 rumah dan tempat usaha terendam air. Kondisi tersebut memperparah dampak ekonomi bagi warga setempat.
Pihak berwenang mencatat sedikitnya 32 orang mengalami luka-luka. Tim medis membawa para korban ke sejumlah rumah sakit terdekat. Namun, sebagian besar korban luka telah dipulangkan setelah mendapat perawatan.
Sementara itu, banjir juga merusak infrastruktur jalan. Kerusakan tersebut memutus akses lalu lintas ke dan dari kota pelabuhan Safi. Akibatnya, aktivitas warga dan distribusi barang terganggu.
Menjelang malam hari, permukaan air mulai surut secara bertahap. Warga kemudian kembali ke kawasan terdampak. Mereka menyisir lumpur untuk menyelamatkan barang-barang yang masih tersisa.
Media setempat Gulf News melaporkan kondisi kota masih dipenuhi lumpur. Proses pembersihan berlangsung secara mandiri dan terbatas. Warga berharap bantuan segera datang dari pemerintah pusat.
Tim penyelamat terus melakukan pencarian di sejumlah titik rawan. Petugas menyisir saluran air dan bangunan yang rusak. Mereka mengantisipasi kemungkinan adanya korban lain yang belum ditemukan.
Di sisi lain, layanan cuaca Maroko mengeluarkan peringatan dini. Badan cuaca memperkirakan hujan lebat kembali turun pada Selasa, 16 Desember 2025. Hujan diperkirakan melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.
Maroko kerap menghadapi cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Negara ini mengalami kekeringan parah selama tujuh tahun berturut-turut. Namun, hujan deras justru datang secara tiba-tiba dan intens.
Direktorat Jenderal Meteorologi Maroko menyebut tahun 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Data resmi menunjukkan defisit curah hujan mencapai 24,7 persen. Kondisi tersebut memperburuk ketidakseimbangan cuaca.
Biasanya, musim gugur di Maroko menghadirkan suhu yang lebih sejuk. Namun, perubahan iklim mengubah pola tersebut. Atmosfer yang lebih hangat menampung lebih banyak uap air.
Selain itu, suhu laut yang meningkat mempercepat pembentukan badai. Kondisi ini membuat hujan turun lebih singkat namun lebih deras. Akibatnya, risiko banjir bandang meningkat di wilayah pesisir.
“Baca Juga: Penembakan di Australia, Kemlu Imbau WNI Tetap Waspada“