Bahagia Tak Ada di Layar Orang Lain, Kang Maman Mengajak Pembaca Berhenti Sejenak

Mencari tahu kehidupan orang lain melalui layar tidak otomatis membawa kebahagiaan. Penulis Maman Suherman atau Kang Maman menilai kebiasaan tersebut justru dapat membuat seseorang kehilangan perhatian pada hidup yang sedang dijalaninya.

Scrolling hanya semata-mata untuk mencari tahu tentang hidup orang lain, dia tidak akan ketemu bahagia,” kata Kang Maman dalam peluncuran buku Pengantar Kebahagiaan di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026. Ia menegaskan bahwa bahagia tidak bersumber dari menyaksikan kebahagiaan atau penderitaan orang lain.

Bagi Kang Maman, kebahagiaan memiliki dimensi sosial yang tidak dapat dipisahkan dari empati. Seseorang dapat ikut merasakan kebahagiaan orang lain, sekaligus menunjukkan kepedulian ketika orang lain berada dalam kesedihan.

“Kebahagiaan sejati adalah kita melihat orang lain bahagia, kita ikut bahagia. Ketika orang lain bersedih, kita ikut berempati,” tuturnya.

Empati dan Keterbukaan Perspektif

Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan dalam Pengantar Kebahagiaan, buku yang diterbitkan Grasindo. Kang Maman mengembangkan karya itu bersama Mice Cartoon yang menerjemahkan sejumlah gagasan ke dalam bentuk ilustrasi.

Penyusunan buku ini melibatkan tulisan, ilustrasi, riset, survei, serta dukungan berbagai pihak. Proses kolaboratif itu juga menjadi pesan yang ingin disampaikan kepada generasi muda dalam menghadapi kondisi saat ini.

Kang Maman mengingatkan bahwa anak muda tidak perlu merasa wajib menyelesaikan semua persoalan seorang diri. “Kata kunci untuk menghadapi kondisi hari ini adalah yuk, kolaborasi,” katanya.

Kolaborasi berkaitan pula dengan kesediaan untuk melihat pengalaman manusia dari sudut pandang lain. Sikap tersebut dinilai penting agar seseorang tidak hanya berpusat pada penilaian dan kepentingannya sendiri.

Menurut Kang Maman, merasa bahwa pendapat pribadi selalu paling benar dapat menghambat kebahagiaan. “Karena yang paling tidak bikin bahagia orang itu kan adalah merasa pendapat dia paling benar dan orang lain semuanya salah,” ujarnya.

Membaca sebagai Ruang untuk Mencerna

Di tengah konsumsi informasi yang bergerak cepat, membaca buku menawarkan proses yang lebih lambat dan utuh. Pembaca perlu mengikuti alur, memahami gagasan, lalu memberi waktu untuk mempertanyakan pemikiran yang selama ini diyakini.

Proses itu berbeda dengan berpindah cepat dari satu unggahan ke unggahan lain tanpa tujuan yang jelas. Membaca memberi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali pengalaman hidup secara lebih mendalam.

Melalui cerita dan ilustrasi, Pengantar Kebahagiaan mengajak pembaca mendekati beragam pengalaman manusia. Buku tersebut tidak sekadar menempatkan bahagia sebagai rasa nyaman atau pencapaian pribadi, melainkan juga sebagai kemampuan membangun hubungan dengan sekitar.

Keterbukaan terhadap pandangan lain dapat membantu seseorang keluar dari khayalan yang dibangun sendiri. Kang Maman menilai orang yang menutup diri dari lingkungan berisiko tidak melihat keadaan orang-orang di sekelilingnya.

Ketika Layar Mendorong Perbandingan

Media sosial tetap dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan, inspirasi, maupun hiburan sesuai kebutuhan. Persoalan muncul ketika pengguna lebih banyak memakainya untuk memenuhi emosi dan membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Unggahan di media sosial umumnya hanya menampilkan potongan kehidupan yang telah dipilih dan dikemas. Gambaran itu tidak selalu menunjukkan keadaan seseorang secara menyeluruh, tetapi dapat memengaruhi cara pengguna menilai hidupnya sendiri.

Dalam situasi tersebut, doom scrolling tidak lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Paparan konten yang memicu kekhawatiran, emosi tertentu, dan perbandingan sosial dapat mengalihkan perhatian dari pengalaman pribadi yang sedang berlangsung.

Kang Maman menilai keinginan untuk merasa lebih baik daripada orang lain tidak akan membawa seseorang pada kebahagiaan yang dicari. Karena itu, berhenti sejenak dari ritme layar dan memberi ruang untuk membaca dapat menjadi cara untuk menata kembali perhatian serta perspektif.

Baca Juga