Pembacaan Pancasila pada upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Alun-alun Kabupaten Pati berlangsung tidak serempak setelah Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra keliru melafalkan sila kedua. Perbedaan ucapan itu terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial.
Sejumlah peserta tetap mengucapkan redaksi sila kedua yang benar, sedangkan sebagian lainnya mengikuti bacaan inspektur upacara. Situasi tersebut membuat kekompakan peserta terpecah pada satu bagian penting dalam rangkaian pembacaan Pancasila.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pati, Sugiyono, membenarkan rekaman yang beredar itu merupakan video asli. Kepada CNN Indonesia, ia menyatakan, “Itu benar video asli.”
Sugiyono menjelaskan bahwa kekeliruan tersebut tidak dilakukan secara sengaja. Menurutnya, kondisi kesehatan Chandra sedang menurun di tengah padatnya agenda peringatan kemerdekaan sehingga konsentrasinya berkurang.
“Kondisi beliau lagi tidak fit sehingga kurang fokus, tidak ada objek kesengajaan tidak ada. Ada banyak agenda (rangkaian peringatan hari kemerdekaan),” ujar Sugiyono.
Chandra memimpin upacara sebagai inspektur upacara pada Senin (17/8). Kesalahan terjadi ketika ia membacakan urutan dasar negara setelah mengucapkan sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Pada bagian sila kedua, Chandra mengucapkan, “keadilan yang adil dan beradab.” Ucapan itu berbeda dengan rumusan resmi sila kedua, yakni “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.”
Perbedaan lafaz tersebut segera terdengar karena peserta upacara diminta mengikuti pembacaan teks. Ada peserta yang melafalkan rumusan sesuai teks Pancasila, sementara peserta lain menirukan ucapan dari pimpinan upacara.
Gangguan keserempakan hanya muncul pada pembacaan sila kedua. Setelah itu, pembacaan sila ketiga, keempat, dan kelima disebut kembali berjalan berurutan.
Rekaman insiden tersebut juga diunggah oleh akun Instagram @Feedgramindo. Keterangan dalam unggahan itu menyoroti adanya dua bacaan berbeda yang terdengar bersamaan di antara peserta upacara.
Akun tersebut menuliskan bahwa sebagian peserta mengucapkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”, sedangkan sebagian lain mengucapkan “keadilan yang adil dan beradab” mengikuti Plt Bupati Pati. Video itu memperlihatkan bahwa satu kekeliruan pengucapan dapat langsung memengaruhi keselarasan pembacaan dalam upacara.
Pemkab Pati tidak menyampaikan adanya perubahan susunan acara maupun gangguan lain setelah insiden tersebut. Klarifikasi yang disampaikan Sugiyono menekankan bahwa kekeliruan itu terjadi saat Risma Ardhi Chandra kurang fit dan tidak dimaksudkan untuk mengubah redaksi Pancasila.
Sugiyono juga meminta semua pihak menyikapi kejadian tersebut secara bijak. Ia mengimbau media untuk turut menjaga suasana di Kabupaten Pati tetap kondusif dan menjadi lebih baik.
“Kepada media mohon kerja sama untuk Pati kondusif dan lebih baik,” kata Sugiyono. Penjelasan itu disampaikan setelah video kesalahan pengucapan sila kedua dalam upacara HUT RI menarik perhatian publik.






