Saat pasokan makanan pasukan gerilya Jenderal Soedirman di hutan Kediri sempat habis, nasi oyek dari warga setempat menjadi salah satu bekal yang dibawa kembali. Kisah itu menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga bergantung pada kemampuan memperoleh pangan di tengah medan yang serba sulit.
Beras kerap langka karena hasil panen rakyat disita pada masa penjajahan, sehingga masyarakat memanfaatkan bahan dari kebun, ladang, dan hutan. Singkong, jagung, umbi liar, ketan, pisang, serta kelapa kemudian diolah menjadi makanan yang mengenyangkan dan praktis dibawa.
Beautynesia mencatat enam sajian yang hadir dalam kisah perjuangan di sejumlah daerah Indonesia, dari Jawa hingga Aceh. Pilihan pangan tersebut tidak selalu rumit, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan tenaga, perjalanan, dan persembunyian di medan gerilya.
| No. | Makanan | Bahan Utama | Karakter |
|---|---|---|---|
| 1 | Nasi oyek | Singkong | Pengganti nasi untuk bekal gerilya |
| 2 | Nasi jagung | Jagung | Alternatif karbohidrat saat beras langka |
| 3 | Janeng | Umbi liar | Bekal pengganti nasi dari hutan Aceh |
| 4 | Leughok | Tepung ketan, pisang kepok, dan sagu | Kudapan berbungkus daun pisang |
| 5 | Ketan Jompo Jember | Beras ketan dan kelapa parut | Bekal penopang energi pejuang |
| 6 | Ubi kukus, singkong, dan pisang rebus | Hasil bumi kebun dan pekarangan | Pangan yang mudah diperoleh |
1. Nasi Oyek
Nasi oyek dibuat dari singkong yang diolah menjadi butiran menyerupai nasi, kemudian dikukus. Makanan ini dikenal sebagai salah satu bekal pasukan gerilya Jenderal Soedirman pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948.
Dalam kondisi persediaan makanan yang menipis di hutan Kediri, Soepardjo Rustam memperoleh nasi oyek dari warga setempat. Bekal itu lalu dibawa kembali untuk memenuhi kebutuhan pasukan yang bergerilya.
2. Nasi Jagung
Jagung menjadi pilihan ketika padi sulit diakses dan harga beras meningkat. Bahan ini lebih mudah ditanam serta diperoleh masyarakat, lalu diolah sebagai pengganti sumber karbohidrat utama.
Nasi jagung biasa disantap bersama sambal terasi dan bakwan jagung. Kehadirannya memperlihatkan peran pangan lokal ketika pasokan beras terganggu.
3. Janeng
Janeng merupakan umbi liar berduri yang tumbuh merambat di hutan Aceh. Umbi tersebut ditumbuk, dikukus, lalu disajikan dengan taburan kelapa parut.
Sifatnya yang mengenyangkan menjadikan janeng sebagai bekal pengganti nasi. Makanan ini juga mencerminkan pemanfaatan bahan alam sekitar dalam kondisi keterbatasan pangan.
4. Leughok
Leughok adalah kudapan khas Aceh yang memadukan tepung ketan, pisang kepok, dan sagu. Campuran bahan tersebut digunakan untuk mengganjal rasa lapar selama perjalanan.
Makanan ini dibungkus rapat menggunakan daun pisang agar tidak cepat basi. Pembungkus alami itu menjadi cara praktis menyimpan bekal untuk kebutuhan di medan perang.
5. Ketan Jompo Jember
Ketan Jompo Jember dibuat dari beras ketan dan kelapa parut. Sebelum perang berkecamuk, sajian khas Jember ini disebut sebagai hidangan eksklusif bagi kalangan bangsawan.
Situasi perang mengubah perannya menjadi bekal bernutrisi bagi pejuang di garis depan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa makanan yang semula dinikmati kelompok tertentu dapat menjadi penopang kebutuhan bersama.
6. Ubi Kukus, Singkong, dan Pisang Rebus
Ubi kukus, singkong, dan pisang rebus dipilih karena hasil bumi itu tersedia melimpah di kebun serta pekarangan warga. Ketiganya dapat diolah dengan sederhana tanpa memerlukan banyak bahan tambahan.
Ubi kukus mengandung vitamin C, vitamin B kompleks, dan fosfor, sedangkan singkong rebus dimanfaatkan sebagai pengganti karbohidrat yang memberi rasa kenyang lebih lama. Pisang rebus melengkapi pilihan tersebut sebagai sumber energi yang mudah dicerna.
Enam makanan ini menggambarkan bahwa daya tahan para pejuang tidak hanya ditentukan oleh strategi di medan pertempuran. Keterampilan mengolah pangan lokal menjadi bekal penting untuk bertahan ketika logistik sangat terbatas.






