5 Tanda ASPD yang Perlu Dikenali, Rasa Pahit Tak Bisa Menjadi Penentu

Kesukaan terhadap kopi, bir, atau makanan pahit tidak dapat digunakan untuk menilai kesehatan mental seseorang. Preferensi rasa bukan dasar untuk menetapkan gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD).

Penilaian ASPD memerlukan pemeriksaan yang lebih luas terhadap pola perilaku seseorang. Ada lima tanda yang kerap dikaitkan dengan kondisi ini, tetapi kemunculan satu perilaku saja juga tidak cukup untuk menarik kesimpulan.

1. Mengabaikan Hak Orang Lain dan Norma Sosial

Pengabaian terhadap hak orang lain disebut sebagai salah satu tanda ASPD yang paling menonjol. Pola tersebut dapat terlihat melalui pelanggaran norma sosial atau aturan hukum yang berlaku di masyarakat.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima menyebut adanya pola pengabaian terhadap hak orang lain pada kondisi ini. Riset tahun 2018 yang dikutip CNBC Indonesia juga menyatakan bahwa orang dengan psikopati dapat memahami sudut pandang orang lain, tetapi kurang terampil menggunakannya sehingga tampak tidak peduli.

2. Berbohong dan Manipulatif

Orang dengan ASPD dapat berbohong, termasuk mengenai nama atau menggunakan identitas lain. Tindakan itu dapat dilakukan untuk memperoleh sesuatu, misalnya keuntungan finansial atau hubungan seksual.

Manipulasi dapat dilakukan melalui pesona dan pujian untuk memengaruhi orang lain. Dalam bentuk tertentu, perilaku tersebut bisa melibatkan pelecehan emosional atau pemerasan.

3. Agresif atau Mudah Tersinggung

Agresivitas dan sifat sangat mudah tersinggung merupakan ciri yang dapat muncul pada orang dengan ASPD. Namun, tidak semua orang dengan ciri psikopati melakukan kekerasan fisik.

Perilaku agresif tidak selalu berbentuk serangan fisik. Pelecehan verbal juga dapat menjadi salah satu bentuk agresivitas dalam interaksi dengan orang lain.

4. Impulsif

Impulsivitas dapat membuat seseorang bertindak tanpa mempertimbangkan konsekuensi tindakannya. Dalam situasi berisiko, keselamatan diri sendiri maupun orang lain bisa tidak menjadi pertimbangan utama.

Sifat ini dikaitkan dengan peluang lebih tinggi mengalami gangguan penggunaan narkoba. Perilaku seksual impulsif juga disebut dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, sementara kecelakaan, cedera, dan bunuh diri berkaitan dengan angka kematian lebih awal.

5. Tidak Memiliki Rasa Penyesalan

Orang dengan ASPD dapat tidak merasa bersalah setelah berbohong atau melanggar hak orang lain. Mereka juga dapat berupaya merasionalisasi kerugian yang ditimbulkan oleh tindakannya.

Istilah “psikopat” kerap dipakai secara longgar untuk menggambarkan orang yang kejam atau berbahaya. Dalam psikiatri, istilah tersebut bukan diagnosis kesehatan mental resmi, sedangkan kondisi yang relevan dikenal sebagai gangguan kepribadian antisosial.

Hubungan Rasa Pahit dan Kepribadian

Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan statistik antara kenikmatan terhadap rasa pahit dan kecenderungan sifat tertentu, termasuk sadisme sehari-hari. Hubungan statistik itu tidak berarti makanan atau minuman pahit menjadi penyebab perilaku seseorang.

Penelitian dari University of Innsbruck, Austria, melibatkan 935 orang yang menyampaikan kesukaan terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit. Para peserta kemudian mengisi empat survei kepribadian untuk menilai kecenderungan psikopat, narsisme, agresi, dan sadisme.

Preferensi rasaContoh makanan atau minumanTemuan yang disebut dalam riset
PahitKopi, lobak, bir, air tonic, seledriDikaitkan secara statistik dengan kecenderungan sadisme atau sifat kejam
ManisPermen, cokelatDisebut lebih disukai orang yang ramah dan tidak menyukai rasa pahit

Hasil penelitian tersebut menemukan kaitan antara peningkatan kenikmatan pada makanan pahit dan kecenderungan perilaku sadis. Penulis penelitian secara khusus mencatat korelasi positif antara sadisme sehari-hari dan preferensi rasa pahit secara umum.

Studi oleh Sagioglou dan Greitemeyer juga melaporkan korelasi positif antara kesukaan pada rasa pahit dan sifat kejam. Korelasi tidak dapat menjelaskan bahwa preferensi rasa menjadi penyebab perilaku tertentu pada seseorang.

Peneliti turut menyinggung supertasting, yaitu kepekaan yang lebih tinggi terhadap rasa pahit. Kondisi ini dikaitkan dengan tingkat emosi yang lebih tinggi pada manusia, dan temuan serupa disebut terlihat pada tikus.

Eric Patterson, konselor profesional berlisensi di Pennsylvania, menjelaskan bahwa banyak kesalahpahaman berkembang seputar istilah psikopat. Penggunaan sebutan “psiko” sebagai label negatif dapat mengaburkan pemahaman masyarakat tentang kondisi kesehatan mental.

Karena itu, rasa pahit sebaiknya dipahami sebagai bagian dari temuan korelasional dalam penelitian, bukan alat untuk memberi label kepada seseorang. Pemeriksaan terhadap ASPD harus melihat pola perilaku secara menyeluruh dan dilakukan melalui penilaian yang memadai.

Baca Juga