5 Mitos Menopause yang Berisiko Menyesatkan, Kehamilan hingga Suplemen

Menstruasi yang mulai tidak teratur pada usia 40-an tidak selalu berarti peluang kehamilan telah berakhir. Ovulasi masih dapat terjadi selama haid masih datang, sehingga kontrasepsi tetap diperlukan bagi perempuan yang belum menginginkan kehamilan.

Kesalahpahaman seputar menopause juga dapat mendorong penggunaan suplemen tanpa dasar bukti yang memadai. Tidak ada suplemen yang terbukti menyembuhkan gejala menopause, sementara perubahan tubuh pada fase ini perlu dinilai sesuai kondisi masing-masing orang.

MitosFakta Utama
Menopause terjadi pada usia yang samaWaktu transisi berbeda pada setiap perempuan.
Perimenopause menutup peluang hamilOvulasi masih mungkin terjadi selama menstruasi masih ada.
Tes darah selalu diperlukanGejala dan perubahan siklus sering menjadi dasar penilaian klinis.
Menopause pasti menaikkan berat badanHormon, penuaan, massa otot, dan distribusi lemak turut berperan.
Suplemen menyembuhkan gejalaBelum ada suplemen yang terbukti menyembuhkan gejala menopause.

1. Menopause Terjadi pada Usia yang Sama untuk Semua Perempuan

Menopause ditetapkan setelah seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sebelum fase tersebut, tubuh dapat memasuki masa transisi bertahap yang disebut perimenopause.

Rata-rata usia menopause di Amerika Serikat adalah 52 tahun, tetapi angka itu tidak berlaku sebagai patokan bagi setiap perempuan. Dokter kandungan Sweta Patel, DO, FACOG, menjelaskan banyak perempuan mulai merasakan gejala perimenopause ketika berusia 40-an.

Perbedaan waktu kemunculan gejala membuat pengalaman tiap perempuan tidak selalu serupa. Karena itu, perubahan haid dan keluhan yang muncul perlu dipahami dalam konteks riwayat kesehatan individu.

2. Tidak Bisa Hamil Selama Perimenopause

Perimenopause memang disertai penurunan kesuburan seiring bertambahnya usia, tetapi fase ini bukan jaminan bahwa kehamilan tidak dapat terjadi. Patel menekankan ovulasi tetap dapat berlangsung ketika seseorang masih menstruasi, termasuk saat siklus haid telah berubah-ubah.

Metode pencegahan kehamilan yang bergantung pada perhitungan waktu menstruasi menjadi kurang andal pada masa ini. Siklus yang tidak lagi teratur menyulitkan perkiraan masa ovulasi secara akurat.

Kontrasepsi tetap relevan bagi perempuan yang tidak ingin hamil selama masih mengalami menstruasi. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

3. Tes Darah Selalu Bisa Memastikan Perimenopause atau Menopause

Tes darah tidak selalu dibutuhkan untuk menilai perimenopause maupun menopause pada kebanyakan perempuan. Dokter dapat mempertimbangkan perubahan pola menstruasi dan gejala yang menyertainya sebagai petunjuk klinis penting.

Pendekatan ini terutama dapat digunakan pada perempuan yang sebelumnya memiliki siklus teratur serta tidak menggunakan terapi hormon atau IUD hormonal. Menstruasi yang mulai tidak teratur dapat menjadi salah satu penanda transisi menuju menopause.

Nanette Santoro, MD, FACOG, yang memimpin dewan redaksi buku menopause terbitan American College of Obstetricians and Gynecologists, menyebut pemeriksaan darah dapat dipertimbangkan dalam situasi tertentu. Contohnya ketika siklus sudah tidak teratur sejak usia muda tanpa gejala khas, atau saat dokter mencurigai adanya kondisi medis lain.

4. Menopause Menjadi Satu-Satunya Penyebab Kenaikan Berat Badan

Perubahan berat badan pada usia 40-an dan 50-an sering dikaitkan sepenuhnya dengan menopause. Padahal, perubahan tersebut melibatkan sejumlah faktor yang bekerja bersamaan.

Perubahan hormon selama transisi dapat menggeser distribusi lemak tubuh sehingga penumpukan lebih banyak terjadi di area perut. Dokter Jenny Chamblain, MD, menjelaskan penuaan juga dapat menurunkan massa otot secara bertahap dan memengaruhi metabolisme.

Faktor-faktor tersebut dapat membuat cara lama dalam menjaga berat badan terasa kurang efektif. Namun, menopause bukan satu-satunya penjelasan atas perubahan tubuh yang terjadi pada fase ini.

5. Suplemen Ajaib Dapat Menyembuhkan Gejala Menopause

Banyak Suplemen Menopause dipasarkan untuk perempuan paruh baya dengan janji membantu menghadapi masa transisi. Namun, belum ada suplemen yang terbukti mampu menyembuhkan gejala menopause.

Santoro mengingatkan bahwa suplemen tidak melewati standar pengujian yang sama seperti obat yang disetujui FDA dalam aspek keamanan, efektivitas, dan pembuktian klaim manfaat. Karena itu, klaim pada kemasan produk perlu dinilai secara hati-hati.

Ahli gizi Elizabeth Ward, MS, RDN, menyoroti praktik “menowashing”, yaitu produk biasa yang dikemas ulang untuk pasar perempuan menopause atau paruh baya. Produk semacam ini dapat dijual lebih mahal tanpa bukti manfaat khusus bagi fase menopause.

Perubahan siklus menstruasi maupun gejala yang menimbulkan kekhawatiran sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Penilaian yang tepat dapat membantu mencari penjelasan yang sesuai dengan kondisi individu, bukan semata mengikuti anggapan yang beredar.

Baca Juga