Liverpool mengakhiri rangkaian pramusim dengan catatan sembilan gol dan sembilan kali kebobolan. Keseimbangan angka tersebut memunculkan perhatian terhadap struktur pertahanan tim menjelang awal era Andoni Iraola.
Jamie Carragher menilai masalah Liverpool bukan terletak pada kurangnya kemampuan menyerang. Mantan pemain The Reds itu justru mengkhawatirkan terlalu banyak pemain berkarakter ofensif yang berada jauh di depan saat tim kehilangan bola.
| Catatan Pramusim Liverpool | Jumlah |
|---|---|
| Kemenangan | 3 |
| Kekalahan | 2 |
| Gol dicetak | 9 |
| Gol kebobolan | 9 |
Tiga kemenangan dan dua kekalahan menunjukkan Liverpool tetap mampu menghasilkan gol dalam laga persiapan. Namun, jumlah kebobolan yang sama dengan gol yang dicetak memperlihatkan adanya celah yang perlu dievaluasi.
Transisi Bertahan Menjadi Sorotan
Fokus kritik Carragher mengarah pada momen transisi bertahan, terutama ketika Liverpool kehilangan penguasaan bola setelah membangun serangan. Banyaknya pemain yang telah berada di area lawan dinilai membuat lini belakang lebih mudah terekspos.
Menurut laporan Detik Sport, Carragher menilai Liverpool memiliki kecenderungan terus menekan dan merangsek ke depan. Pendekatan itu membuat perubahan dari fase menyerang ke bertahan menjadi persoalan penting bagi tim.
“Liverpool memiliki terlalu banyak pemain menyerang di lapangan; mereka hanya ingin terus merangsek maju,” ujar Carragher. Ia juga menilai pola itu kembali terlihat sepanjang pramusim Liverpool.
Carragher menggambarkan permainan tersebut seperti pertandingan bola basket karena ritmenya cepat dan sangat terbuka. Alur pertandingan yang terus berganti dari menyerang ke bertahan dinilai tidak ideal untuk diterapkan secara konsisten oleh tim papan atas.
“Hal yang sama juga terjadi pada masa pramusim Liverpool kali ini-permainannya mirip bola basket,” kata Carragher. Ia menambahkan, “Tidak ada tim papan atas yang bermain sepak bola seperti itu. Saya tidak habis pikir.”
Tantangan Awal Andoni Iraola
Situasi itu menjadi pekerjaan awal bagi Andoni Iraola, yang ditunjuk menggantikan Arno Slot sebagai manajer Liverpool. Kedatangannya membawa harapan besar setelah ia membawa Bournemouth finis di posisi keenam Liga Inggris.
Periode pramusim menjadi tahap penting bagi Iraola untuk membentuk pendekatan permainan baru. Ia perlu menjaga naluri menyerang Liverpool sambil memastikan jumlah pemain yang meninggalkan area pertahanan tidak membuat tim kehilangan perlindungan saat bola direbut lawan.
Slot sebelumnya dipecat setelah Liverpool gagal meraih gelar dan finis di peringkat kelima Liga Inggris. Catatan tersebut terjadi meski ia pernah membawa Liverpool menjadi juara Liga Inggris 2024/2025.
Dengan produktivitas sembilan gol, Liverpool memiliki modal serangan yang tetap terlihat dalam laga persiapan. Akan tetapi, kritik Carragher menegaskan bahwa perbaikan transisi bertahan akan menentukan apakah permainan agresif itu dapat berjalan tanpa membuka ruang berlebihan.






