
Pesan Terakhir Anas al-Sharif Sebelum Gugur di Gaza
koranindonesia.id – Pesan Terakhir Anas al-Sharif: Koresponden Al Jazeera, Anas al-Sharif, gugur bersama empat jurnalis lain dalam serangan Israel dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza. Serangan ini memicu gelombang kecaman internasional.
Beberapa saat sebelum tewas, Anas mengirim pesan terakhir kepada temannya. Pesan tersebut diunggah ke media sosial sehari setelah kematiannya. Ia menyebut pesan itu sebagai “wasiat terakhir”, yang berarti Israel berhasil membungkam suaranya jika pesan itu sampai ke publik.
“Baca Juga: Rusia Siapkan Uji Coba Rudal Nuklir Burevestnik“
Dalam pesannya, Anas menegaskan bahwa ia telah berjuang menjadi suara rakyat Palestina sejak kecil di kamp pengungsi Jabalia. Ia mengungkapkan kerinduannya untuk kembali ke kampung halamannya di Ashkelon atau Al-Majdal, meski menyadari bahwa takdir Tuhan lebih tinggi dari keinginannya.
Anas menceritakan penderitaan yang ia alami selama hidupnya. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu menyampaikan kebenaran tanpa manipulasi. Ia juga mengkritik pihak-pihak yang diam melihat penderitaan rakyat Gaza selama lebih dari satu setengah tahun.
Anas menitipkan Palestina kepada semua orang merdeka di dunia. Ia menggambarkan rakyatnya sebagai generasi muda yang tertekan, tak diberi kesempatan bermimpi, dan menjadi korban bom serta rudal Israel.
dia meminta agar dunia tidak membiarkan rantai membungkam suara perjuangan Palestina. Ia menyerukan agar semua orang menjadi jembatan menuju pembebasan negeri itu hingga kebebasan kembali bersinar.
Anas juga menitipkan keluarganya kepada dunia, terutama putrinya Sham yang tidak sempat ia lihat tumbuh dewasa. Ia meminta agar keluarganya dilindungi dan diberikan kehidupan yang aman.
Dia menulis bahwa jika ia meninggal, ia meninggal dalam keyakinan penuh kepada Tuhan dan prinsipnya. Ia meminta semua orang untuk tidak melupakan Gaza dan selalu mendoakannya.
Selain Anas al-Sharif, serangan tersebut juga menewaskan koresponden Al Jazeera Mohammed Qreiqeh, juru kamera Ibrahim Zaher, Moamen Aliwa, dan Mohammed Noufal.
Tak lama setelah itu, militer Israel mengakui bahwa mereka memang menargetkan para jurnalis tersebut. Selanjutnya, Israel menuduh Anas sebagai anggota Hamas yang menyamar sebagai jurnalis dan terlibat dalam serangan roket.
Reporters Without Borders mengutuk keras pembunuhan tersebut. Asosiasi Pers Asing menyatakan kemarahan mereka, menuding Israel kerap melabeli jurnalis Palestina sebagai militan tanpa bukti jelas.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengungkapkan keterkejutan mereka dan menegaskan Israel belum memberikan bukti tuduhan terhadap Anas. CPJ mencatat setidaknya 186 jurnalis tewas sejak serangan Israel di Gaza pada Oktober 2023. Angka ini menjadi catatan paling mematikan bagi jurnalis sejak 1992..
“Baca Juga: Snapdragon 8 Elite 2 di Galaxy S26 Edge Tembus Geekbench“