Perut Kian Membesar, Risiko Diabetes hingga Stroke Tak Boleh Diabaikan

Obesitas tidak hanya berkaitan dengan angka pada timbangan atau pakaian yang terasa makin sempit. Kondisi ini dapat memicu resistensi insulin yang berhubungan dengan diabetes, hipertensi, peningkatan kolesterol, gangguan pembuluh darah, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.

Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harwono, menilai risiko tersebut perlu dikenali sejak dini. Gangguan kesehatan yang berkaitan dengan obesitas tidak selalu langsung menimbulkan keluhan dalam aktivitas sehari-hari.

Karena itu, kenaikan berat badan yang berlangsung terus-menerus patut menjadi perhatian. Perubahan bentuk tubuh, terutama penumpukan lemak di area perut, dapat menjadi sinyal awal untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Masyarakat dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis dari Kementerian Kesehatan sebagai langkah awal. Program tersebut mencakup pengukuran berat badan dan penilaian sejumlah kondisi yang berpotensi menjadi komplikasi.

Pemeriksaan juga dapat meliputi tekanan darah serta gula darah untuk melihat risiko yang menyertai kenaikan berat badan. Bila ditemukan penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan sesuai alur program.

Lingkar Perut Perlu Dipantau

Selain berat badan, lingkar perut merupakan ukuran sederhana yang dapat dipantau secara berkala di rumah. Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia, dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, menyebut ukuran tertentu pada laki-laki dan perempuan perlu mendapat perhatian.

Jenis KelaminLingkar Perut yang Perlu Diperhatikan
Laki-laki90 sentimeter
Perempuan80 sentimeter

Lengan baju yang mulai terasa ketat atau bagian perut yang makin sulit masuk ke pakaian dapat menjadi tanda perubahan fisik yang nyata. Saat kondisi itu terjadi, pengukuran berat badan dan lingkar perut dapat dilakukan untuk memantau perkembangannya.

Pemantauan tersebut bukan dimaksudkan untuk menilai penampilan seseorang. Hasilnya dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kemungkinan risiko kesehatan sebelum penyakit penyerta berkembang lebih jauh.

Bukan Sekadar Mengurangi Nasi

Penanganan obesitas tidak cukup dilakukan dengan anjuran umum untuk mengurangi nasi atau membatasi porsi makan. Kondisi ini dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebiasaan makan, keadaan psikologis, dan pola yang dapat terbentuk sejak masa kecil.

Erwin mengingatkan bahwa pendekatan yang terlalu sederhana berisiko tidak menyentuh penyebab utama kenaikan berat badan. Setiap orang memerlukan langkah penanganan yang mempertimbangkan kebiasaan serta kondisi kesehatannya masing-masing.

“Obesitas itu tidak bisa ditangani hanya dengan, ‘Oh kurangi deh nasinya. Jangan makan malam, makan sekali sehari, jangan makan nasi.’ Itu enggak bisa,” ujar Erwin. Pernyataan itu menegaskan bahwa perubahan pola hidup perlu disusun secara lebih menyeluruh dan sesuai kebutuhan individu.

Resistensi insulin menjadi salah satu alasan mengapa obesitas perlu ditangani secara serius. Kondisi tersebut berkaitan dengan gangguan pengaturan gula darah dan dapat berdampak pada berbagai organ apabila faktor risikonya tidak dikenali serta dikendalikan.

Konsultasi dengan Tenaga Profesional

Prof. Dante mendorong orang dengan obesitas untuk tidak menangani kondisinya seorang diri. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan tiap individu.

Tenaga kesehatan dapat membantu menilai apakah kenaikan berat badan sudah berkaitan dengan tekanan darah, gula darah, atau kadar kolesterol yang perlu diperhatikan. Penilaian tersebut penting agar penanganan tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga pengendalian risiko komplikasi.

Perhatian terhadap pakaian yang makin sempit dan perut yang membesar dapat dimulai tanpa menunggu munculnya keluhan berat. Pemeriksaan rutin serta pendampingan tenaga profesional menjadi bagian penting untuk mengenali dan mengelola risiko obesitas lebih awal.

Baca Juga