koranindonesia.id – Seorang pastor Katolik Maronit di Lebanon meninggal dunia akibat serangan tank Israel di Lebanon Selatan. Peristiwa ini terjadi di Desa Qlayaa, wilayah yang dekat dengan perbatasan Israel.
Insiden tersebut menambah daftar korban dalam konflik yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah. Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menimbulkan ribuan korban jiwa.
Selain itu, konflik juga memperburuk situasi keamanan di Lebanon Selatan.
“Baca Juga: Longsor Sampah Bantargebang: 4 Tewas, 2 Korban Selamat“
Pastor yang tewas bernama Romo Pierre al-Rahi. Banyak orang juga mengenalnya dengan nama Pierre el-Rai.
Ia bertugas sebagai pastor paroki di Desa Qlayaa, wilayah Marjayoun. Desa ini merupakan komunitas Kristen Maronit di Lebanon Selatan.
Menurut laporan Al Jazeera pada Senin, 10 Maret 2026, Romo Pierre menolak perintah Tentara Israel. Pasukan Israel meminta warga dan tokoh agama untuk meninggalkan desa tersebut.
Namun, Romo Pierre memilih tetap tinggal di parokinya. Ia ingin terus mendampingi umat di tengah situasi perang.
Keputusan tersebut akhirnya berujung tragis. Tank Israel menembak wilayah desa dan menewaskan Romo Pierre.
Sekretaris Jenderal Majelis Patriark dan Uskup Katolik Lebanon, Romo Jean Younes, menyampaikan kabar duka tersebut.
Ia mengenal Romo Pierre secara pribadi. Keduanya berasal dari wilayah yang sama.
“Romo Pierre al-Rahi berasal dari desa saya, Dibeh. Namun beliau melayani sebagai pastor paroki Qlayaa di Marjayoun,” kata Romo Jean Younes.
Ia juga menyampaikan rasa duka yang mendalam. Selain itu, ia menilai kepergian Romo Pierre sebagai kehilangan besar bagi komunitas gereja.
Desa Qlayaa sebelumnya menjadi rumah bagi ribuan warga. Sebelum konflik meningkat, sekitar delapan ribu orang tinggal di wilayah tersebut.
Namun situasi berubah drastis setelah serangan militer Israel dimulai di Lebanon Selatan. Banyak warga kemudian meninggalkan desa untuk mencari tempat aman.
Meski demikian, beberapa penduduk masih bertahan. Mereka memilih tetap tinggal di rumah dan komunitas mereka.
Desa tersebut juga memiliki arti penting bagi komunitas Kristen Maronit di kawasan itu.
Sementara itu, Israel terus meningkatkan operasi militernya di kawasan tersebut. Pemerintah Israel telah memanggil sekitar 100 ribu pasukan cadangan.
Militer Israel mempersiapkan pasukan tersebut untuk memperluas operasi militer. Operasi tersebut tidak hanya menyasar Iran, tetapi juga Lebanon.
Militer Israel menjalankan serangan itu dengan nama sandi Operation Roaring Lion.
Pasukan cadangan tersebut akan memperkuat berbagai sektor militer. Selain itu, Israel ingin meningkatkan kesiapan tempur jika konflik semakin meluas.
Situasi ini membuat ketegangan regional terus meningkat. Banyak pihak khawatir konflik dapat berkembang menjadi perang yang lebih besar di Timur Tengah.
“Baca Juga: Perjalanan Vidi Aldiano 6 Tahun Melawan Kanker Ginjal“