
Jutaan Warga AS Demo “No Kings” Kritik Trump
koranindonesia.id – Ribuan demonstran turun ke jalan di lebih dari 3.000 kota dan desa di Amerika Serikat. Mereka menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump.
Penyelenggara menyebut aksi ini sebagai salah satu protes terbesar. Mereka memperkirakan sekitar 8 juta orang ikut turun ke jalan.
Aksi ini berlangsung pada akhir pekan dan menyebar luas di berbagai wilayah. Demonstrasi menciptakan gelombang tekanan politik yang signifikan.
“Baca Juga: Spanyol Blokir Pesawat AS Terkait Serangan Iran“
Gerakan “No Kings” kembali menggelar aksi nasional setelah sebelumnya muncul pada Juni 2025. Kini, gerakan tersebut memasuki putaran ketiga sejak pertama kali digelar.
Penyelenggara ingin menyampaikan pesan kuat kepada pemerintah. Mereka menyoroti situasi yang mereka anggap penuh ketidakpastian.
Sejumlah organisasi besar ikut terlibat dalam aksi ini. Di antaranya adalah ACLU dan National Action Network.
Selain itu, United Federation of Teachers juga ikut mendukung. Mereka bersama-sama merencanakan sekitar 3.200 aksi pada hari yang sama.
Kerumunan terlihat di kota besar, pinggiran, hingga daerah kecil. Para demonstran membawa plakat dan meneriakkan berbagai slogan.
Menariknya, sekitar setengah aksi terjadi di wilayah basis Partai Republik. Hal ini menunjukkan penyebaran protes yang cukup merata.
Kota-kota besar seperti San Francisco dan Los Angeles mencatat aksi besar. Selain itu, protes juga berlangsung di Dallas, Arlington, dan Fort Worth.
Di Boynton Beach, pejabat setempat menggambarkan suasana sangat antusias. Massa menunjukkan energi tinggi sepanjang aksi berlangsung.
Demonstrasi tidak fokus pada satu tuntutan saja. Para peserta menyuarakan berbagai isu yang mereka anggap penting.
Mereka menyoroti kebijakan imigrasi yang melibatkan pasukan federal. Selain itu, mereka juga menyoroti kasus kematian warga akibat aparat.
Beberapa demonstran juga mengkritik konflik yang melibatkan Iran. Isu ini menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi.
Gerakan ini tidak hanya terjadi di dalam negeri. Demonstran di berbagai negara juga ikut menyuarakan dukungan.
Di Roma dan London, massa memenuhi jalanan. Mereka membawa pesan yang sama dengan aksi di AS.
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu tersebut mendapat perhatian global. Dukungan internasional memperkuat tekanan terhadap pemerintah AS.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terhadap aksi terbaru ini. Namun, sebelumnya pihak pemerintah menilai aksi ini sebagai bentuk anti-Amerika.
Di sisi lain, tingkat persetujuan terhadap Trump mengalami penurunan. Survei Reuters dan Ipsos mencatat angka 36 persen.
Angka ini menjadi yang terendah sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2026. Kondisi ini mencerminkan ketidakpuasan publik yang meningkat.
Penurunan dukungan publik berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintah. Banyak warga mengkritik kebijakan ekonomi yang berdampak pada biaya hidup.
Selain itu, konflik internasional juga memicu kekhawatiran. Situasi ini memperbesar tekanan terhadap pemerintahan saat ini.
Di tengah kondisi tersebut, wacana pemakzulan kembali muncul. Meski begitu, belum ada langkah resmi dari Kongres.
Gelombang protes ini menunjukkan meningkatnya ketegangan politik di AS. Situasi ini kemungkinan akan terus berkembang dalam waktu dekat.
“Baca Juga: iQOO Z11 Rilis, Baterai 9020mAh dan Layar 165Hz“