
Gaza Krisis Pangan 1 dari 3 Warga Tak Dapat Makan
koranindonesia.id – Gaza Krisis Pangan: Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Lembaga Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) memperingatkan bahwa wilayah ini menghadapi risiko kelaparan yang sangat serius. Satu dari tiga orang diperkirakan akan mengalami hari tanpa makanan.
UNICEF meminta masyarakat internasional segera bertindak sebelum lebih banyak nyawa melayang akibat kelaparan dan konflik yang terus berlanjut.
“Baca Juga: Battlefield 6: Ini Spesifikasi PC Minimum dan Rekomendasi“
Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, menyampaikan bahwa lebih dari 320.000 anak di Gaza kini terancam mengalami malanutrisi akut.
Ia menyampaikan pernyataan ini setelah kunjungan langsung ke Israel, Gaza, dan Tepi Barat. Ia menegaskan bahwa indikator malanutrisi di Gaza sudah melampaui ambang batas darurat pangan.
“Penderitaan paling parah saat ini terjadi di Gaza. Anak-anak meninggal dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Chaiban.
Ia menambahkan, keputusan yang diambil sekarang akan menentukan apakah puluhan ribu anak bisa bertahan hidup atau tidak.
Seorang pemuda Palestina bernama Atef Abu Khater (17) meninggal dunia akibat kekurangan gizi.
Menurut keterangan dari Rumah Sakit al-Shifa, Khater dirawat dalam kondisi kritis awal pekan ini. Ia sempat dirawat di ruang ICU sebelum akhirnya meninggal.
Ayah Khater menyebut bahwa anaknya tidak lagi merespons pengobatan. Sebelum perang, Khater diketahui dalam kondisi sehat.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel ke Gaza telah menewaskan setidaknya 60.000 warga Palestina. Dari jumlah tersebut, lebih dari 18.000 korban adalah anak-anak.
Banyak korban masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat pengeboman.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan bahwa 162 orang tewas akibat kelaparan, termasuk 92 anak-anak.
Jurnalis lokal, Ahmed al-Najjar, menggambarkan kondisi Gaza sebagai wilayah tanpa keamanan. Ia saat ini mengungsi di Khan Younis, wilayah yang sering disebut sebagai “zona aman.”
Menurutnya, rasa takut datang bukan hanya dari serangan udara, tetapi juga dari hilangnya keamanan dan kekuasaan sipil.
“Bahkan untuk membeli tepung, warga tidak yakin bisa pulang hidup-hidup,” kata al-Najjar.
Ia menegaskan bahwa tidak ada lagi polisi atau pasukan keamanan yang menjaga jalanan. Warga hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian.
UNICEF menyerukan kepada dunia agar segera mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan harus segera dipulihkan. Jika tidak, puluhan ribu anak mungkin tidak akan selamat dalam beberapa minggu ke depan.
Situasi ini menjadi ujian nyata bagi dunia: apakah akan diam menyaksikan penderitaan atau segera bertindak untuk menyelamatkan nyawa.
“Baca Juga: Tom Holland Ungkap Kostum Baru Spider-Man di Film Terbaru“