Basa-Basi Bukan Sekadar Sapaan, Pertanyaan Lanjutan Bisa Membuat Anda Lebih Disukai

Pertanyaan lanjutan yang bermakna dapat membuat seseorang dinilai lebih menyenangkan dalam percakapan. Temuan ini muncul dari analisis peneliti Harvard terhadap lebih dari 300 percakapan daring dalam serangkaian eksperimen.

Orang yang menerima lebih banyak pertanyaan lanjutan cenderung merasa lawan bicaranya lebih disukai. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas respons setelah sapaan awal dapat menentukan apakah obrolan berkembang atau berhenti sebagai formalitas.

Dalam praktik sehari-hari, basa-basi sering dipandang sebagai percakapan ringan yang tidak terlalu penting. Padahal, obrolan pembuka dapat menjadi jalan untuk membangun kenyamanan sebelum dua orang membahas hal yang lebih utama.

Istilah basa-basi disebut berasal dari singkatan “bahas sana, bahas sini”. Ungkapan ini menggambarkan percakapan yang bergerak dari satu topik ringan ke topik lainnya ketika orang baru mulai berinteraksi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, basa-basi berarti adat sopan santun atau tata krama pergaulan. Istilah tersebut juga merujuk pada ungkapan yang disampaikan sebagai bentuk kesantunan, bukan semata-mata untuk menyampaikan informasi.

Pertanyaan seperti “apa kabar?” masih menjadi pembuka yang lazim saat bertemu teman atau orang yang baru dikenal. Namun, sapaan itu akan terasa lebih hidup apabila diikuti perhatian terhadap jawaban yang diberikan lawan bicara.

Respons Lebih Penting daripada Pertanyaan Umum

Pertanyaan lanjutan berbeda dengan pertanyaan pembuka yang sangat umum mengenai kabar atau pekerjaan. Pertanyaan ini berangkat dari cerita yang telah dibagikan, sehingga lawan bicara merasa didengarkan.

Misalnya, seseorang yang bercerita tentang rencana pada pekan ini dapat ditanggapi dengan pertanyaan mengenai hal yang paling dinantikannya. Cara tersebut membuat pembicaraan tidak berubah menjadi rangkaian pertanyaan yang terlepas satu sama lain.

Komunikasi juga tidak perlu didominasi oleh satu pihak yang terus bertanya. Setelah mendengar cerita orang lain, seseorang dapat membagikan kabar gembira atau pengalaman menarik agar obrolan berlangsung lebih seimbang.

Pertukaran cerita semacam ini dapat membantu orang saling mengenal, termasuk di lingkungan kerja. Rekan kerja umumnya tidak hanya ingin menjawab pertanyaan, tetapi juga ingin memperoleh gambaran mengenai orang yang mengajaknya berbicara.

Pendekatan A.C.T dalam Memulai Obrolan

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan ialah A.C.T, yang terdiri atas authenticity, connection, dan topic. Tiga unsur ini dapat membantu percakapan terasa tulus, berkaitan, serta memiliki arah pembahasan.

UnsurMaknaPenerapan dalam Obrolan
AuthenticityKeaslianMengobrol secara tulus
ConnectionKoneksiMencari keterhubungan dengan lawan bicara
TopicTopikMembuka pembahasan yang memberi gambaran tentang diri

Keaslian membuat percakapan tidak terdengar seperti daftar pertanyaan yang dibuat-buat. Sikap tulus juga membantu seseorang memberi respons yang sesuai dengan situasi dan cerita lawan bicara.

Koneksi menjaga pembicaraan tetap terkait dengan minat atau jawaban yang sudah muncul sebelumnya. Sementara itu, topik memberi arah agar percakapan tidak selesai hanya setelah sapaan pertama.

Pembuka yang lebih terbuka dapat dipilih sesuai keadaan, misalnya dengan menanyakan keadaan pikiran seseorang saat itu. Pertanyaan mengenai hal yang dinantikan pada pekan berjalan juga dapat memberi ruang bagi jawaban yang lebih personal.

Minat pribadi dapat menjadi bahan percakapan, termasuk dengan menanyakan figur publik atau artis yang sedang disukai. Meski demikian, pertanyaan perlu disampaikan secara wajar dan menyesuaikan situasi agar tetap terasa sopan.

Basa-basi pada akhirnya bukan sekadar pengisi keheningan dalam pertemuan. Dengan perhatian pada jawaban dan keberanian berbagi cerita, obrolan ringan dapat menjadi awal komunikasi yang lebih bermakna.

Baca Juga