
AS Luncurkan Serangan Balasan ke Suriah, Target Basis ISIS
koranindonesia.id – AS Luncurkan Serangan ke Suriah: Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara dan artileri di Suriah.
Jet tempur menargetkan beberapa lokasi yang dikaitkan dengan kelompok ISIS.
Serangan ini menjadi respons atas insiden mematikan terhadap pasukan Amerika.
Militer AS menyebut target memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas ISIS.
Serangan ini terjadi setelah dua tentara Amerika tewas.
Seorang penerjemah sipil juga kehilangan nyawa dalam insiden tersebut.
“Baca Juga: Sesepuh NU Gelar Musyawarah Kubro Bahas Polemik PBNU“
Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan tegas terkait serangan tersebut.
Ia menulis pernyataan resmi melalui platform Truth Social.
Trump menegaskan Amerika Serikat akan memberikan pembalasan keras.
Trump menyatakan janji tersebut sebagai tanggung jawab negara.
Ia menegaskan komitmen melawan kelompok teroris.
Pernyataan itu dikutip oleh media internasional CNN.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, turut memberikan pernyataan.
Ia menyebut serangan ini sebagai deklarasi pembalasan.
Hegseth menekankan bahwa langkah tersebut bukan awal perang baru.
Ia menegaskan Amerika Serikat bertindak untuk melindungi rakyatnya.
Hegseth menambahkan kepemimpinan Presiden Trump bersikap tegas.
Pemerintah AS tidak ragu dalam membela kepentingan nasional.
Serangan balasan ini menyusul insiden pada 13 Desember.
Insiden tersebut menewaskan dua tentara Amerika dan seorang penerjemah.
Setelah kejadian itu, militer AS meningkatkan aktivitas operasi.
Pasukan Amerika dan mitra menjalankan sepuluh operasi di Suriah.
Operasi tersebut menyasar jaringan yang terkait ISIS.
Langkah ini bertujuan menekan ancaman lanjutan.
Operasi militer juga menghasilkan temuan intelijen baru.
Pasukan mengumpulkan perangkat elektronik dari lokasi operasi.
Data tersebut membantu proses penargetan serangan lanjutan.
Pejabat Amerika menyebut intelijen berperan penting dalam operasi.
Informasi tersebut memperkuat efektivitas serangan udara.
Militer terus menganalisis temuan di lapangan.
Ratusan pasukan Amerika masih ditempatkan di Suriah.
Penempatan ini menjadi bagian dari misi jangka panjang.
Misi tersebut berfokus pada pemberantasan ISIS.
Amerika Serikat memulai misi ini pada pertengahan 2010-an.
Saat itu, ISIS menguasai wilayah luas di Suriah dan Irak.
Situasi tersebut memicu respons militer internasional.
Operasi Amerika dan mitra berhasil menekan kekuatan ISIS.
Perubahan politik di Suriah turut memengaruhi situasi keamanan.
ISIS kehilangan sebagian besar wilayah kekuasaannya.
Namun, Amerika Serikat menilai ancaman belum sepenuhnya hilang.
Karena itu, militer tetap menjaga kehadiran di kawasan.
Langkah ini bertujuan mencegah kebangkitan kelompok tersebut.
“Baca Juga: Rusia Tempatkan Rudal Nuklir Oreshnik di Wilayah Belarus“