
Macet Parah di TB Simatupang, Pemprov DKI Dorong Naik Transjakarta
koranindonesia.id – Macet Parah di TB Simatupang: Kemacetan di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, semakin parah. Banyak proyek galian berlangsung di sepanjang ruas jalan ini. Pemasangan pipa air limbah dilakukan secara bertahap. Akibatnya, arus kendaraan sering tersendat, terutama pada jam sibuk pagi dan sore. Kondisi ini diperkirakan masih terjadi beberapa waktu ke depan.
“Baca Juga: Gempa 5,8 Poso Tewaskan 2 Orang, Puluhan Jemaat Terluka“
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyadari kondisi tersebut menimbulkan keresahan. Melalui Dinas Perhubungan, Pemprov mengimbau masyarakat agar beralih menggunakan transportasi umum. Syafrin Liputo, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, mengajak warga memanfaatkan layanan Transjakarta. Menurutnya, Transjakarta melayani kawasan TB Simatupang melalui beragam rute, baik BRT maupun non-BRT.
Ia menekankan, warga bisa menghindari kemacetan jika beralih ke transportasi umum. Dengan begitu, perjalanan dapat berlangsung lebih lancar dan efisien.
Dishub menyebutkan, Transjakarta memiliki rute yang menjangkau wilayah ini. Koridor 8 menghubungkan Lebak Bulus dengan Pasar Baru. Selain itu, tersedia juga beberapa rute non-BRT. Jalur non-BRT tersebut antara lain D21 (UI–Lebak Bulus), D41 (Lebak Bulus–Sawangan via Tol Desari), 7A (Lebak Bulus–Kampung Rambutan), dan 7E (Ragunan–Kampung Rambutan).
Selain itu, Transjakarta juga melayani jalur S21 (Ciputat–CSW), S22 (Ciputat–Kampung Rambutan), serta 6H (Lebak Bulus–Senen). Dengan pilihan tersebut, warga bisa menyesuaikan kebutuhan perjalanan harian mereka.
Dishub tidak hanya mengimbau masyarakat. Mereka juga menyiagakan petugas di titik rawan kemacetan. Petugas mengatur arus kendaraan dan memberi prioritas pada jalur angkutan umum. Langkah ini dilakukan agar operasional Transjakarta tetap berjalan optimal meskipun proyek masih berlangsung.
Dengan adanya petugas, warga berharap arus lalu lintas bisa lebih terkendali. Selain itu, Dishub ingin memastikan kendaraan pribadi tidak sepenuhnya menguasai jalan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, ikut menyoroti masalah ini. Ia bahkan mencoba melewati ruas TB Simatupang bersama sopir pribadinya. Setelah melihat kondisi di lapangan, ia meminta Dinas Bina Marga, Dishub, dan Satpol PP segera bertindak.
Pramono juga menyoroti keberadaan oknum “Pak Ogah” yang memanfaatkan kemacetan. Ia meminta petugas menertibkan mereka agar tidak semakin memperburuk kondisi jalan.
Selain itu, Gubernur menegaskan agar bedeng proyek di sepanjang jalan segera diperkecil. Menurutnya, banyak pembatas proyek justru mempersempit badan jalan. Ia menilai beberapa pekerjaan tidak membutuhkan bedeng besar. Karena itu, ia mendesak agar bedeng diperkecil demi mengurangi kemacetan.
“Kalau perlu saya tanda tangan langsung agar bedeng itu diperkecil,” ucap Pramono. Ia menekankan, upaya ini penting untuk menjaga kelancaran lalu lintas selama proyek berlangsung.
Kemacetan di TB Simatupang menunjukkan perlunya langkah tegas. Proyek galian memang penting, tetapi pengaturan lalu lintas harus lebih baik. Pemprov DKI Jakarta mendorong warga menggunakan transportasi umum, terutama Transjakarta.
Dengan adanya rute beragam dan dukungan petugas di lapangan, transportasi umum bisa menjadi solusi. Warga diharapkan memilih opsi ini agar perjalanan lebih efisien. Pada saat yang sama, pemerintah terus mencari cara mengurangi dampak proyek terhadap lalu lintas harian.
“Baca Juga: Hujan Es dan Angin Kencang Terjang Malang, Bangunan Roboh“