
22 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Gaza
koranindonesia.id – Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat setelah sejumlah serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 22 warga Palestina. Pejabat medis dan pertahanan sipil di Gaza melaporkan korban berasal dari lima lokasi berbeda di Gaza utara dan tengah.
“Baca Juga: DKI Tebang 163 Pohon Berbahaya untuk Cegah Insiden Tumbang“
Tim medis di Gaza menyebut serangan terjadi di kawasan permukiman. Mereka melaporkan bahwa seorang komandan senior Hamas termasuk di antara korban tewas. Serangan ini menambah jumlah korban Palestina sejak gencatan senjata diterapkan enam minggu lalu.
Militer Israel mengatakan mereka menyerang target yang dianggap mengancam keamanan Israel. Mereka menyatakan bahwa serangan itu menjadi respon atas insiden sebelumnya. Israel menyebut seorang pria bersenjata menembaki tentara setelah melintasi garis kuning, wilayah yang dikendalikan penuh oleh Israel. Hamas menolak klaim tersebut dan menyebut laporan itu tidak akurat.
Hamas dan Israel kembali saling menuduh sebagai pihak yang melanggar gencatan senjata. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 310 warga Palestina meninggal sejak periode gencatan dimulai. Angka tersebut meningkat tajam setelah serangan terbaru akhir pekan ini.
Pertahanan sipil setempat menyebut serangan Israel menargetkan Kota Gaza, Deir al-Balah, dan kamp Nuseirat. Serangan itu menghancurkan beberapa rumah dan memicu kebakaran di wilayah padat penduduk.
Pejabat Hamas menyampaikan bahwa lima warga tewas di persimpangan Abbas, kawasan Rimal di Kota Gaza. Saksi mata melihat sebuah mobil terbakar akibat serangan tersebut. Di Deir al-Balah, tiga warga tewas dekat sebuah masjid. Serangan lain menghantam dua rumah di kamp Nuseirat.
Agresi pertama mengenai rumah keluarga Abu Amouneh dan menewaskan tiga orang. Serangan berikutnya menargetkan rumah keluarga Abu Shawish dan menewaskan tujuh orang. Di bagian barat Kota Gaza, serangan lain menewaskan tiga warga.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan tegas. Israel menuduh Hamas mengirim pria bersenjata untuk menyerang tentara Israel. Pemerintah Israel kemudian mengaku menewaskan lima anggota senior Hamas sebagai respon.
Israel juga meminta para mediator mendesak Hamas memenuhi kewajiban mereka dalam kesepakatan gencatan senjata. Pihak Hamas memberi pernyataan balasan yang menyebut pergerakan tentara Israel ke wilayah barat Gaza sebagai pelanggaran nyata terhadap perjanjian.
Hamas meminta mediator internasional dan Amerika Serikat mengambil langkah cepat. Mereka memperingatkan bahwa Israel mencoba menciptakan kondisi baru di lapangan. Menurut Hamas, kondisi ini dapat meruntuhkan upaya menjaga stabilitas gencatan senjata.
Militer Israel melancarkan operasi besar sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan Hamas saat itu menewaskan 1.200 warga Israel dan menyandera 251 orang. Israel kemudian memulai kampanye militer besar di Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 69.500 korban jiwa sejak konflik terbaru dimulai. Setidaknya 280 korban meninggal selama periode gencatan senjata.
Perkembangan ini kembali menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak. Serangan balasan terjadi hampir setiap pekan. Para pengamat juga menilai bahwa ketegangan mudah meningkat kapan saja.
Para mediator kini menghadapi tantangan besar untuk mendorong kedua pihak menghentikan serangan. Sementara itu, warga sipil Gaza terus menghadapi kondisi yang sangat sulit akibat konflik yang belum menunjukkan tanda berakhir.
“Baca Juga: Jam Saku Emas Penumpang Titanic Laku Hampir Rp39 Miliar“