Banner sumsel

Ziarah ke Makam Orangtuanya, Herman Deru Kenang Kisah Sang Pesirah

PALEMBANG, koranindonesia.id – Untuk pertama kalinya sejak dilantik sebagai Gubernur Sumsel 1 Oktober 2018 lalu, Herman Deru pulang kampung untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya di Desa Sidomulyo Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sabtu (20/10/2018) siang.

Tak sendirian, HD sapaan beken Herman Deru, mengunjungi peristirahatan terakhir ayah dan ibunya ditemani sang istri Febrita Lustia, berikut anak-anak, menantu, cucu serta saudara dan keluarga besarnya.

Mengenakan kemeja hitam dipadu celana berwarna senada, Mantan Bupati OKU Timur dua periode itu khusyuk berdoa di depan dua batu nisan yang berjajar di hadapannya.

Sempat terlihat kedua matanya berkaca-kaca. Tampak sekali kalau HD rindu akan kehadiran dua sosok yang amat dicintainya tersebut.

“Konsisten dan tegas. Seperti itulah beliau mendidik ke-14 anaknya termasuk saya. Itu yang selalu saya ingat sampai detik ini,” ujar HD membuka kisah tentang sosok sang ayah Hamzah bin Umar yang merupakan pesirah paling legendaris di tanah Belitang.

Meski lahir sebagai anak penjahit biasa dan hanya mengenyam bangku sekolah setingkat SGB, ayahnya berhasil menjadi sosok yang sangat menginspirasi.

Terutama dalam hal memimpin daerah. Hamzah yang memulai kariernya sebagai guru sekolah dasar hingga menjadi kepala sekolah benar-benar menjadi tauladan semua orang.

Sosok Hamzah diceritakan HD, dipercaya menjadi Pesirah (Pembantu Bupati) sekitar tahun 1964 saat usianya baru menginjak 26 tahun. Membawahi dan mengkoordinir sekitar 40 desa, Hamzah terkenal sangat disiplin saat memimpin.

Meskipun begitu, dibalik sosoknya yang cenderung keras dan tegas, Hamzah juga merupakan sosok yang sangat mengayomi.

Lebih dari itu, Hamzah yang lahir di Desa Bahuga Bumi Agung Lampung (dulu masuk wilayah Sumsel) juga terkenal sebagai sosok yang sangat menghargai siapapun.

Bahkan saking kharismatiknya almarhum, rakyat Belitang kala itu sangat segan dengan sosoknya. Saking hormat dan sayangnya pada sosok Hamzah, warga Belitang pada masa itu bahkan rela turun dari sepeda saat melintas di halaman rumah sang Pesirah.

“Pernah satu kali waktu masih kecil saya ikut ayah salat di masjid (sekarang masjid Istiqlal). Beliau lihat karpet masjid itu sangat lusuh. Lalu dikumpulkannya masyarakat dan kepala desa dan dia bilang begini ” Ayo kita gotong royong beli karpet baru. Saya bisa saja beli sendiri tapi apa kalian mau cuma saya yang masuk surga. Kalau sampai Jumat depan karpet ini belum juga diganti, kita semua jangan salat disini lagi,” ujar HD menirukan ucapan ayahnya.

Menurut HD itu hanya salah satu ketegasan yang dicontohkan oleh sang ayah saat menjadi Pesirah. Tak mengherankan, selama memimpin di Belitang, Hamzah menjadi sosok paling dielu-elukan warganya. Hamzah menjadi Pesirah paling legendaris yang pernah ada karena dipercaya memimpin sampai empat periode.

Wajar bila warga Belitang benar-benar kehilangan sosoknya saat beliau wafat pada 1995 silam. Hamzah diketahui meninggal di usia yang terbilang muda, 57 tahun.

“Waktu beliau meninggal, Belitang benar-benar berduka. Semua toko tutup hari itu. Semua petani tidak pergi ke sawah. Semua berduka dan berkabung karena rakyat sangat kehilangan sosok yang dicintai. Kondisi ini berlangsung sampai beberapa hari,” ujar HD mengenang.

Sang ayah lanjut HD tertempa keras sedari kecil, karena sudah dititipkan sejak sekolah di SGB. Untuk bisa sekolah Hamzah waktu itu harus menempuh jarak hingga 57 km dari Martapura ke Belitang. Hamzah menikahi Hayani (ibunda HD) saat berusia 20 tahun hingga memiliki 14 anak, masing-masing 7 perempuan dan 7 laki-laki.

Diakui HD, kerasnya cara almarhum mendidik anak-anaknya terasa hingga ia duduk d ibangku kelas 3 SMA.

“Waktu itu saya termasuk yang paling nakal. Waktu SMA saya diberi motor di Palembang. Nah, motor itu suka saya bongkar dan dimodifikasi. Pokoknya diganti-ganti. Tapi saya masih segan dengan beliau, jadi kalau almarhum mau datang ke Palembang kan beri kabar dulu (semacam wartel). Langsung motor tadi saya bongkar lagi, spion dan lain-lain dipasang seperti semula biar beliau tidak tahu. Nakal saya dulu. Kelas 3 SMA masih saya kena pukul beliau,” ujarnya sambil tertawa.

Selama menjadi Pesirah empat periode dikatakan HD, banyak karya besar yang dihasilkan sang Pesirah yang fenomenal itu.

Sebut saja Yayasan Pendidikan Belitang (YPB) yang sekarang sudah menjadi sekolah unggulan, merupakan sekolah yang pernah digagasnya. Termasuk pusat-pusat perkantoran yang ada di Belitang sekarang.

Bukan hanya pandai mengayomi masyarakat, hal lain yang paling diingat HD ayahnya juga sangat cerdas. Di usianya yang muda, Hamzah kala itu menguasai berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, China, Belanda dan beberapa bahasa lainnya.

Mengenai didikannya yang keras, terkadang diakui HD ikut memberikan pengaruh dalam gaya kepemimpinannya di OKU Timur. Namun hal itu tak jadi masalah menurutnya, terlebih untuk hal yang baik dan positif.

“Keras itu tidak harus kejam dan itu saya lakukan juga. Semua menurun di kami termasuk intonasi saya itu adopsi semua dari ayah. Beliau juga tidak pernah pernah menghindari masalah. Beliau keras tapi disukai nah disitu hebatnya ayah saya,” tegasnya.

Selain berkunjung ke makam kedua orang tuanya, HD beserta keluarga besarnya juga menyambangi makam kakek dan nenek serta saudara tuanya yang berada di pemakaman umum tak jauh dari lokasi. Sekitar satu jam berziarah agenda pulang kampung gubernur Sumsel itu dilanjutkan dengan acara temu keluarga besar di rumahnya.
(ded/rel)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.