Banner pemprov Sumsel Vaksin
Muba vaksin maret 2021

Warpres Ma’ruf Amin Bilang Begini Usai Disuntik Vaksin Sinovac

JAKARTA, koanindonesia.id – Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin telah menerima satu dosis vaksin Sinovac untuk menambah daya tahan tubuh demi mencegah penularan COVID-19. Dia diimunisasi tadi pagi di kediaman Wapres di Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta Pusat.

Usai menerima satu dosis vaksin, Ma’ruf mengaku tidak merasakan efek samping.  Kata dia, tidak ada rasa pusing atau ngantuk berlebihan. Bahkan kata dia tak rasa sakit sedikitpun. Kondisinya normal sebagaimana biasanya.

“Tidak ada masalah, tidak ada sakit, tidak ada rasa pusing, biasa-biasa saja,” kata Ma’ruf dalam tayangan video yang diterima media, Rabu (17/2/2021).

Ma’ruf Amin sendiri termasuk l ansia yang mulanya mendapat penangguhan vaksinasi karena berbagai pertimbanngan. Kini lansia sudah biasa menjadi target vaksinasi setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan persetujuan penggunaan emergency use of authorization (EUA) vaksin Sinovac.

Kebijakan tersebut dilakukan berdasarkan pertimbangan banyaknya korban meninggal terinfeksi virus corona pada lansia. Atas dasar itu, Ma’ruf kemudian mengajak seluruh lansia untuk merelakan dirinya divaksinasi.

“Saya mengajak semua mari kita melaksanakan vaksinasi, diharapkan juga supaya masyarakat Indonesia mengalami kekebalan terhadap COVID-19,” pintanya.

Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menegaskan, menjaga dan merawat diri dari paparan wabah adalah sebuah hukum yang bersifat wajib. Untuk itu, dia kembali mengingatkan masyarakat, khususnya para lansia untuk mengambil bagian dalam program imunisasi terbesar di Indonesia itu.

“Jaga daripada penyakit itu hukumnya wajib. Wajibnya sampai kapan, sampai tercapainya herd immunity, sampai 70 persen divaksin,” katanya lagi.

Sekedar informasi, data Kementerian Kesehatan, persentase lansia yang terpapar virus corona di Indonesia sejumlah 10 persen, namun total yang meninggal karena COVID-19 mencapai angka 50 persen.  Hal tersebut menunjukkan resiko besar bagi para lansia di dalam menghadapi pandemi COVID-19.

“Karena berbasis risiko. Kalau tenaga kesehatan risikonya tinggi karena sering dan banyak terekspos virus. Kalau lansia didahulukan karena risikonya tinggi, kalau terkena, kemungkinan fatalnya besar,” kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.