Upal Marak Beredar di Banyuasin

BANYUASIN,koranindonesia.id – Peredaran uang palsu (Upal) selama masa kampanye pilkada serentak marak beredar di Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan. Temuan Upal ini membuat resah pedagang di Pasar Rakyat Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III.

Upal yang beredar ini umumnya pecahan  Rp 100.000. Atas temuan ini pedagang meminta aparat kepolisian untuk menyelidiki peredaran Upal ini agar tidak merugikan masyarakat, terutama pedagang.

“Awalnya saya tidak tahu kalau uang yang diterima dari pembeli itu uang palsu, sebab tidak terlalu memperhatikan kondisi uang yang diberikan pembeli. Saya tidak paham dengan wajah pembelinya apalagi nama dan alamatnya,” ujar Fani, Pedagang Sate di Pasar Pangkalan Balai saat dibincangi wartawan, Kamis (19/04/2018).

 

Dia mengaku baru diketahui kalau uang yang diterima adalah uang palsu saat warnanya terkena air dan bentuknya jadi kaku.” Jadi tadi sempat tangan saya masih ada air bekas ngambil air untuk cuci piring, lalu saya mau ambil uang, ada yang terkena air, nah warnanya luntur,” jelasnya.

Fani menambahkan, ketika mengetahu uang tersebut palsu, langsung memberitahu ibu dan saudaranya. “Saya kasih tahu ibu dan saudara saya, lalu oleh saudara saya, uang tersebut dibakarnya,” tukasnya.

Korban upal juga dialami Anita Pedagang Ikan Asin asal Bom Berlian saat dibincangi wartawan ini, dirinya tahu  uang tersebut palsu dari bos besarnya sering membeli bahan dagangannya di Palembang.

“Kita tidak tahu kalau itu uang palsu awalnya, saat itu kita ada uang Rp 2.200.000 kita bawa ke Palembang untuk distorkan ke Koko, kemudian ingin membawa Ikan Asin lagi ke Pangkalan Balai, setibanya di Palembang, Koko bilang uang saya dua lembar adalah uang palsu, dan dia kasih tahu cara melihat palsu apa tidaknya uang itu,” katanya.

Masih dikatakan Anita, hari ini adiknya yang menemani dirinya berjualan juga mendapat jenis uang palsu, dari pembeli yang memanfaatkan keuntungan dan tidak memikirkan nasib pedagang.

” Adik saya sempat hilang uang sebesar. Rp 94.000,00. Karena pembeli belanja menggunakan uang palsu dengan nominal Rp. 100.000.00, kalau setiap hari kita menerima dan harus mengembalikan sosok kepada pembeli sebesar itu, bisa bangkrut kita”, keluhnya.

Dirinya meminta kepada pihak terkait agar segera menelusuri peredaran uang palsu yang saat inu sudah merugikan pedagang di Pasar Pangkalan Balai, mungkin bisa jadi upal itu juga beredar di pasar induk di kabupaten Banyuasin ini.

” Kepada pihak Pasar maupun kepolisian untuk segera menelusuri beredarnya uang palsu tersebut, sebab kalau dibiarkan bisa-bisa menyebar ke pasar-pasar lain serta ke warung kecil yang ada di pedesaan,” katanya. (wal)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.