Banner sumsel

Tips Memilih Mainan untuk Si Kecil

PALEMBANG, koranindonesia.id – Pilihlah mainan anak yang tak hanya menghibur, tetapi bisa membantunya berimajinasi, memecahkan masalah, dan membantu perkembangan motoriknya. Apalagi pada usia bayi, pada awal fungsi dari mata bayi belumlah sempurna dia hanya dapat melihat hitam putih dengan jarang pandang sekitar 10-25 cm ketika berusia 0-1 bulan. Memasuki bulan ke2, jarak pandangnya bertambah jauh. Cobalah memperlihatkan gambar atau pola hitam putih yang kontras. Ia akan memperhatikannya dan tertarik dengan gambar tersebut. Kita dapat memilihkan mainan yang sesuai dengan umur anak, karena pada setiap tahapan umur, anak selalu mempelajari sesuatu yang baru. Mainan bagaimanakah yang harus mom pilih? Simak ulasan berikut yang dilansir dari laman hellosehat.com:
Pilih mainan sesuai usia bayi, jangan membeli mainan hanya karena mom menganggapnya lucu dan menggemaskan. Pilihlah yang sesuai dengan usia si kecil. Mom bisa mengeceknya di kemasan mainan tersebut. Banyak produk mainan untuk bayi yang melampirkan batas usia yang boleh memainkannya — misalnya untuk “1 tahun ke atas”, “6 bulan”, dan seterusnya. Namun, tidak semua produk mainan bayi yang ada di Indonesia memiliki stiker ini. Jika Anda bingung, mom bisa menanyakannya kepada karyawan toko mengenai mainan bayi yang tepat untuk anak Anda. Anda juga bisa bertanya pada sesama orangtua lainnya untuk memastikan. Yang pasti jangan memberi mainan yang berukuran ukuran kecil atau bisa dilepas pasang dengan mudah karena bayi Anda bisa saja mengira itu makanan dan memasukkannya ke dalam mulut.
Cek kualitasnya, tidak semua mainan yang berkualitas harganya mahal. Anda sebagai orangtua yang harus pandai memilih mainan terbaik demi keamanan balita Anda. Pastikan:
  • Tidak ada pewarna mainan yang mengelupas.
  • Tidak ada sisi mainan yang tajam.
  • Tidak ada sisi mainan yang mudah ditekan dengan jari bayi yang kecil.
  • Tidak terdapat bagian dengan magnet yang mudah lepas.
  • Tidak ada bagian berupa tali, benang, atau kawat panjang yang lebih dari 18 cm agar anak Anda tidak tercekik.
  • Mainan cukup kokoh sehingga tidak mudah rusak atau hancur.
  • Tidak ada baterai, kancing, dan benda-benda perintilan lain yang bisa mudah dibongkar pasang dengan tangan mungilnya.
Telusuri seluruh bagian mainan tersebut dari tombolnya hingga mungkin bagian pitanya yang mudah ditarik. Bila mainan anak bayi tersebut juga memiliki kotak baterai, mom sebaiknya telah lebih dulu memastikan kotak baterai tersebut tidak akan mudah dibuka oleh bayi Anda. Terbukanya kotak baterai ini dapat berbahaya bagi bayi Anda.
Mainan bayi Anda harus besar, sampai si kecil belum berumur 3 tahun, pastikan Anda membeli mainan yang ukurannya lebih besar dari mulutnya untuk mencegah kemungkinan tersedak. Mainan untuk bayi yang ideal seharusnya berukuran 3 cm pada lebarnya dan minimal 6 cm pada panjangnya. Mom juga sebaiknya menghindari mainan-mainan yang mencakup bola dan koin dalam rangkaiannya. Mainan anak bayi seperti ini umumnya hanya berdiameter 4 cm, sehingga muat untuk melalui saluran pernapasan bayi Anda. Jika ingin memastikan apakah mainan untuk bayi Anda sudah cukup aman, Anda bisa membandingkannya dengan gulungan tissue toilet yang biasanya berbentuk silinder. Jika mainan bayi yang Anda beli muat di dalam silinder karton tersebut, berarti mainan yang Anda beli kekecilan dan tidak aman untuknya. Perhatikan juga berat mainan yang Anda pilih. Mainan yang terlalu berat bisa saja meniban dan melukai tubuh balita Anda. Cari mainan bayi yang ringan, namun tetap kokoh. Anda sendiri biasanya akan bisa merasakan apakah mainan itu terlalu berat untuk anak Anda atau tidak.
Pastikan bahan mainan anak Anda aman, pastikan mainan untuk bayi Anda terbuat dari bahan yang mudah dicuci dan tidak beracun karena bayi suka memasukkan mainan ke dalam mulut. Hindari bahan kimia seperti merkuri, kadmium, phthalate, timah, dan lainnya yang mungkin ada pada beberapa produk mainan bayi.
Selain memerhatikan jenis mainan anak yang tepat berdasarkan usia, memilih mainan anak juga harus memerhatikan bahan, warna, ataupun bentuk mainan yang mungkin berisiko melukai anak. Jadi jangan salah pilih, jadikan mainan anak sebagai sarana belajar yang menyenangkan dan edukatif. Semoga bermanfaat (nnn)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.