Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Tingkatkan Hubungan Indonesia – Afrika Selatan, Indonesia Bidik Kerja Sama Bidang Perfilman

Jakarta,Koranindonesia.id-Perwakilan RI di Pretoria dan Cape Town menyelenggarakan diskusi virtual dengan judul “Getting Behind The Scene: Dialogue On Indonesia And South Africa Film Industry, From Friendship To Cooperation” dengan melibatkan para produser film dan pembuat kebijakan dari Indonesia dan Afrika Selatan guna mendorong kerja sama di industri perfilman dan mendukung perkembangan ekonomi kedua negara (27/08/2020).

Dilansir dari situs resmi Kementrian Lluar Negeri, dialog virtual yang diadakan bersama oleh KBRI Pretoria dan KJRI Cape Town menghadirkan narasumber dari kedua negara, Lala Timothy (Produser film Indonesia), Layla Swart (Produser film Afrika Selatan), Syaifullah, SE., M.EC., PH.D. (Direktur Industri Kreatif bidang Film, Televisi dan Animasi, Kemenparekraf), Terrence Khumalo (Monitoring and Evaluation Manager, National Film and Video Foundation Afrika Selatan), Jehad Kasu (Cape Town International Film Market and Festival).

“Film merupakan alat penting bagi soft diplomacy. Film juga memiliki potensi besar terhadap perekonomian. Mampu membuka lapangan kerja dari berbagai sektor ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung,” ujar Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Salman Al Farisi pada saat membuka kegiatan Dialog virtual.

Konsul Jenderal RI di Cape Town, Mohamad Siradj Parwito di dalam sambutan pembukaan mengharapkan melalui kegiatan ini para praktisi dan pembuat kebijakan dapat saling berbagi pengalaman, masukan dan pengetahuan mereka mengenai industri perfilman di kedua negara guna mendukung upaya perkembangan industri perfilman di masa mendatang.

Melalui kegiatan ini, KBRI Pretoria dan KJRI Cape Town berupaya untuk memperkenalkan kepada para pelaku di industri perfilman Afrika Selatan mengenai perkembangan yang terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu pasar terbesar di Asia, dan didaulat sebagai salah satu produsen film paling potensial di kawasan Asia Pasifik, Indonesia memiliki potensi besar sebagai partner kerja sama Afrika Selatan. Terjalinnya hubungan persahabatan panjang antara Indonesia dan Afrika Selatan, di bawah kerangka kerja sama Selatan-Selatan, kiranya dapat dimanfaatkan untuk mendorong kerja sama di dalam mengembangkan industri perfilman kedua negara.

Industri perfilman Afrika Selatan merupakan salah satu industri perfilman tertua di dunia, ujar Layla Swart. Lebih lanjut Swart menjelaskan mengenai perkembangan industri perfilman Afrika Selatan yang terbagi menjadi dua bagian, penyediaan kru untuk film servicing untuk produksi besar dari Eropa dan Amerika, dan pembuat film lokal. Sebagai penyedia film servicing, Afrika Selatan menjadi lokasi pilihan berbagai film blockbuster seperti Avengers, Blood Diamod dan Mad Max.

Terkait hal ini, pemerintah Afrika Selatan telah menjalin kerja sama produksi bersama dengan 10 negara dan menyediakan bantuan pendanaan bagi pembuat film lokal dan memberikan insentif berupa rebate kepada para pembuat film dari luar yang membuat filmnya di Afrika Selatan. Selain itu, Afrika Selatan juga memiliki fasilitas studio berkelas dunia dan memberikan kemudahan dalam hal perijinan kepada para pembuat film. Hal ini membantu menjadikan Afrika Selatan sebagai pilihan lokasi pembuatan film berbagai studio film dari Eropa dan Amerika dan membantu perekonomian Afrika Selatan. “Sekitar 5,6 milyar rand (atau sekitar 4,8 triliun rupiah) pendapatan yang diperoleh Afrika Selatan melalui film,” ujar Terrence Khumalo.

Bila dibandingkan dengan Afrika Selatan, Indonesia juga tidak kalah. Seperti disampaikan oleh Lala Timothy, “kelebihan dari industri perfilman Indonesia adalah di Indonesia banyak tersedia orang berbakat.” Namun masih banyak kendala yang dihadapi industri perfilman Indonesia. Belum tersedianya skema insentif bagi para pembuat film lokal atau bagi studio film dari luar di bawah kerangka film servicing di Indonesia. Maraknya pembajakan film, kurangnya infrastruktur dan teknologi pendukung pembuatan film disampaikan oleh Syaifullah sebagai bagian dari kendala yang dialami oleh industri perfilman Indonesia. Kerja sama bilateral dengan negara lain, seperti Afrika Selatan, utamanya terkait investasi, produksi bersama, dan pemasaran serta distribusi film menjadi bagian dari rencana perkembangan industri perfilman yang tengah dirancang oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Diantara berbagai tantangan tersebut, masalah pendanaan yang terbatas menjadi tantangan yang dialami oleh para produsen film, baik di Indonesia maupun Afrika Selatan. Namun dengan mulai maraknya berbagai media digital video on demand, seperti Netflix, Goplay, Viu, Mola TV, dan Disney plus, industri perfilman di Indonesia dan Afrika Selatan mulai beralih memasuki area baru di arena small screen.

Melalui kegiatan Dialog virtual yang berlangsung selama 2 jam itu, para pelaku di industri perfilman Indonesia dan Afrika Selatan menyadari pentingnya kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan terkait dan berharap ke depannya Indonesia dan Afrika Selatan dapat meneruskan hubungan melalui kerja sama dan aksi nyata diantaranya melalui penyelenggaraan pekan film atau festival film yang khusus menampilkan karya dari kedua negara. ​

Jehad Kasu berharap ke depannya bisa dibuat perjanjian kerja sama antara Indonesia dan Afrika Selatan seperti di bidang produksi film bersama. Hal sama juga disampaikan oleh Khumalo, “masih ada ruang untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia dan kenapa tidak dengan melihat hubungan yang telah terjalin selama ini.” (Kemenlu)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.