Banner sumsel

Tim Jelajah Muba Kunjungi Tempat Bersejarah Makam Bujang Ranggonang

MUBA,koranindonesia.id-Setelah menempuh ratusan kilometer dan menjelajahi beberapa tempat di wilayah Musi Banyuasin untuk mencari potensi wisata alam serta kembali menggali sumber -sumber sejarah peninggalan nenek moyang bumi Serasan Sekate. Kali ini tim ekspedisi jelajah Muba mendatangi tempat sekaligus berziarah ke makam Bujang Ranggonang yang berada di Desa Danau Cala Kecamatan Lais.

Herdoni salah satu tim jelajah Muba yang juga tergabung dalam organisasi pemuda Arus Musi seni, budaya dan sastra (Asri) menuturkan makam bujang Ranggonang merupakan salah satu tempat wisata sejarah yang ada di Muba, sebab bujang Ranggonang ini memiliki cerita bersejarah.

“Bujang Ranggonang ini menurut sejarahnya merupakan salah satu tokoh yang hidup di Bumi Serasan Sekate Musi Banyuasin dimana diceritakan dalam sejarahnya bujang Ranggonang memiliki rupa yang sangat menawan konon katanya dahuluh Ranggonang adalah sosok Jejaka yang tak ada tandingannya jika berbicara mengenai ketampanan dan ilmu Kanuragan yang Ia miliki,”kata Hardoni,Sabtu (13/4/2019).

Memang banyak versi yang berpendapat tentang tokoh ini, ada yang menyatakan lahir di Muara Rawas, ada lagi dari daerah lainnya, namun menurut cerita dari masyarakat Desa Danau Cala yang pernah kami gali informasi, bujang Ranggonang merupakan legenda/cerita rakyat turun-menurun ini.

Ranggonang bertempat tinggal di sebuah desa, Danau Cala, disini Ranggonang dengan kesaktiannya menciptakan sebuah danau yang merupakan lekukan dari aliran sungai musi untuk dijadikan sebuah padepokan atau pusat ilmu pengetahuan agama Budha saat itu, dan diberilah nama Danau Cala, Cala merupakan nama yang diambil dari salah satu murid Budha yang bernama Cala.

“Jadi, Sebelum menetap di Danau Cala, Ranggonang beserta rombongan keluarganya yang datang dari sebuah kerajaan besar (mungkin Sriwijaya) dengan menggunakan sarana transportasi sungai, berasal dari hilir sungai musi mudik ke hulu sungai dengan beberapa persinggahan diantaranya pertama di Lebung Labi, kemudian melanjutkan persinggahan ke sebuah tempat namanya Pulau Nio, disini beliau membuat sebuah sungai kecil diberi nama sungai Ranggonang yang merupakan jalur transportasi air menuju desa Petaling, Teluk, dan menuju sungai Batang Harileko, namun tempat tinggal disini mengalami sebuah kejadian aneh dimana salah satu gadis dari anggota keluarganya diambil oleh seekor buaya yang menyerupai manusia dan akhirnya sekelompok keluarga tersebut memutuskan untuk pindah ke hulu.”ujar Doni.

Menurut cerita,Lanjut Doni kelompok keluarga ini terpecah menjadi dua, yang satu kelompok menetap tinggal di Danau Cala bersama Ranggonang, dan yang satu kelompok lagi melanjutkan perjalanannya kehulu sungai musi membuat sebuah perkampungan Semangos yang berada di Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas.

Disini terdapat sebuah tempat rawa-rawa yang bernama Peleburan, entah kenapa tempat ini dinamai Peleburan, menurut cerita, kata “Peleburan” merupakan kata dari “Lebur” atau “Dihancurkan”, kemungkinan ini merupakan sebuah tempat yang sengaja dihancurkan oleh musuh mungkin itulah sedikit kilasan Cerita mengenai Bujang Ranggonang yang diambil dari berbagai sumber, dengan tujuan agar mengobati rasa penasaran kuyung dan kupek mengenai sosok tersebut. Sehingga sedikit-sedikit akan ada gambarannya bagaimana cerita atau jejak bujang Ranggonang yang melegenda tersebut.

Pada dasarnya, dibalik kunjungan sekaligus berziarah kemakam bujang Ranggonang ini, Kami melihat ada potensi wisata yang dibuat oleh tokoh bujang Ranggonang dimana, dana Cala ini merupaakan danau yang berbentuk bulan sabit yang memiliki fanorama keindahan alam yang luar biasa.

Menurut cerita, zaman dahulu Desa Danau Cala yang terletak dipinggiran Sungai Musi yang melingkar berbentuk bulan sabit, terbetuknya danau ini berdasarkan cerita warga setempat pada waktu itu ada seseorang bernama Cala berkeinginan untuk membuat jalan pintas supaya Sungai Musi yang melingkar terlalu panjang menjadi dekat Tetapi maksud dan cita-cita dari seseorang bernama Cala tersebut terwujud, menjadikan Sungai Musi yang melingkar jauh menjadi dekat dan lingkaran Sungai Musi yang terlalu jauh tadi menjadi Danau, dan sampai saat ini masih berbentuk seperti bulan sabit.

“Masalah kebenaran atau tidaknya cerita ini semua kembali kepada para pembaca, yang terpenting jadikan info ini sebagai sarana penambah khazana ilmu pengetahuan bagi kita semua.Dan kami juga berharap Pemerintah Kabupaten Muba agar memiliki arsip sejarah tentang siapa saja tokoh-tokoh yang pernah bermukim di bumi Serasan Sekate.

Selain itu kedepan kami juga berharap ada sebuah kegitan yang mengajak seluruh anak -anak remaja serta pihak lainya untuk membuat semacam kilas balik berupa film sejarah di Bumi Serasan Sekate, ini bertujuan agar semua pihak bisa menjaga peninggalan sejarah dan bisa belajar dari sejarah tentang terbetuknya Kabuapten Musi Banyuasin,” pungkasnya. (rel)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.