Banner Pemprov 2020
Banner 23 September

Tegas..!! Wartawan Senior Ini Nilai Wawancara Najwa Shihab Bentuk Kreatifitas Karya Jurnalistik

JAKARTA, koranindonesia.id – Sebuah langkah blunder dilakukan Relawan Jokowi Bersatu yang melaporkan Najwa Shihab ke Polda Metro Jaya.

Tidak sedikit yang mengecam upaya pelaporan tersebut yang dianggap sebagai sebuah tindakan berlebihan dan terlebih laporan tersebut ditolak pihak Polda Metro Jaya.

Pelapor kemudian diarahkan untuk menghubungi Dewan Pers, karena masalah tersebut memang menjadi ranah Dewan Pers, bukan kepolisian.

“Najwa itu wartawan, sedangkan Mata Najwa adalah program news TV. Sumber hukumnya adalah UU Pers, bukan UU Penyiaran. UU Penyiaran sendiri mengakui, program berita atau news domain dari UU Pers,” ujar wartawan senior Ilham Bintang melalui keteranganya, Kamis (8/10/2020).

Ilham mengatakan kalau Najwa tidak menyiarkan episode kursi kosong di Trans7 (seperti biasanya) tapi di channel YouTube miliknya dan itu juga merupakan karya jurnalistik.

“Apa karena bukan di media konvensional maka Mata Najwa bukan karya jurnalistik? Tetap saja karya jurnalistik. Pasal 1 UU Pers No 40/1999, tegas menyebutkan flatform pers bukan hanya di media cetak dan elektronik, tetapi juga pada saluran yang tersedia. Apakah itu wilayah UU ITE? Bukan! Itu wilayah UU Pers,” katanya.

Penolakan yang dilakukan Polisi kata Ilham Bintang sudah benar dan Sudah sesuai aturan karena memang sudah ada MoU antara Kepolisian dengan Dewan Pers dan Jaksa Agung.

Pengaduan soal berita diserahkan kepada Dewan Pers yang punya kewenangan untuk menilai suatu sengketa berita dan Ilham Bintang juga juga merasa heran dengan pelaporan yang dilakukan Relawan Jokowi Bersatu.

Karena, sejauh yang dia tahu, Menkes Terawan Agus Putranto tak pernah terdengar merasa keberatan terhadap espisode wawancara kursi kosong.

“Padahal, menteri punya hak jawab yang wajib ditunaikan oleh Mata Najwa. Yang mengadukan Najwa malah pihak lain. Bahkan tiba-tiba bermunculan “humas-humas Menkes” di media-media sosial mengecam Najwa. Apa salahnya?” tambahnya.

Dirinya mengaku sudah melihat langsung rekaman Mata Najwa episode wawancara kursi kosong. Dan, menurut dia, tidak ada pelanggaran Kode Etik Jurnalistik dalam program Mata Najwa episode kursi kosong itu.

“Mungkin kursi kosong bagi banyak orang adalah hal yang baru, tapi itu juga bukan kejahatan. Mungkin itulah salah satu terobosan Najwa, memanfaatkan peluang yang ditawarkan media baru,” pungkasnya.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.