Bhintan Shalawat

Takmir Masjid se Solo Raya Menolak Politisasi Masjid

KARANGANYAR, koranindonesia.id – Jelang Pemilu 17 April, Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU)  se Solo Raya khawatir, akan adanya penyalahgunaan tempat ibadah, khususnya masjid untuk kampanye terselubung. Hal ini menjadi topik pembahasan dalam konsolidasi yang diadakan di Balai Istirahat Pekerja (BIP) Tawangmangu, Kamis (28/3/2019).

Sekretaris Pengurus Pusat LTMNU, Kyai Ibnu Hazen mengatakan, masjid sebagai tempat ibadah semestinya digunakan berdasarkan fungsinya. Bukan untuk kegiatan kampanye atau menghimpun massa. “Saya mengimbau, supaya masjid jangan dijadikan sebagai tempat kampanye maupun kepentingan politik sesaat. Takmir masjid harus bisa mengambil sikap,” terang Ibnu.

Upaya ini dilakukan untuk menjaga keharmonisan umat. Meski berbeda pilihan dalam pemilu 2019, namun persatuan dan kesatuan umat di tingkat bawah harus tetap terjaga. “Mestinya tempat ibadah menebar rahmat, kebaikan, dan sebagai wadah pemersatu umat, bangsa, dan negara. Sehingga dakwah di masjid menjadi lebih sejuk tanpa kepentingan kampanye politik,” papar Ibnu.

Sedangkan isu politik yang diangkat ke permukaan seharusnya, bagaimana cara mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Bukan dengan kampanye hitam, fitnah dan berita bohong agar lebih substantif dan menciptakan sistem demokrasi yang damai. “Menolak segala bentuk politisasi masjid yang dapat memecah belah persatuan umat, dengan menjaga peran dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT, pusat gerakan dakwah, pendidikan, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya,” tegasnya.

Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat, untuk mendukung gerakan mengembalikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, serta menyerukan kepada umat Islam untuk turut serta terlibat aktif dalam menjaga dan memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah menebar kebaikan, dan tempat penyampaian ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Lebih lanjut diungkapkan Ibnu, ada sekitar 1,4 juta masjid di Indonesia yang 80% diantaranya dibangun oleh warga Nahdliyin. “Juga menolak paham radikalisme yang menyusup dari masjid ke masjid sebagai wujud menjaga dan merawat NKRI, dengan menjaga persatuan dan kesatuan untuk mencintai negara Indonesia guna mencapai Baldatun Tayyibatun wa Rabbun Ghafuur,” pungkasnya. (ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.