Banner sumsel

Suarakan Kebebasan Pers, AJI dan PPMI Kota Solo Gelar Aksi di Monumen Pers

SOLO, koranindonesia.id – Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) bersama dengan Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Solo menggelar aksi Hari Pers Internasional yang diadakan di depan Gedung Monumen Pers, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo pada Jumat (3/5/2019) siang. Dalam aksinya, belasan peserta aksi menyuarakan terkait sejumlah hal yang mengancam kebebasan pers, berpendapat, dan berekspresi.

Ketua AJI Kota Solo Adib MA mengatakan, mereka mengaku prihatin dengan sejumlah peristiwa yang menimpa jurnalis dan pekerja media. Salah satunya adalah pekerja media dari salah satu koran terkemuka di wilayah Jawa Tengah, Abdul Munif. Pekerja layout tersebut dipecat sepihak oleh perusahaan lantaran menanyakan uang lembur saat Pemilu 2019 lalu.

Tak hanya itu, mereka juga menyinggung terkait aksi kekerasan yang menimpa jurnalis Iqbal Kusumadireza (Rezza) yang mengalami penganiayaan saat menjalankan tugasnya, untuk meliput aksi 212 pada 21 Februari 2019 lalu.

Berdasar data yang dimiliki oleh AJI, ada 64 kasus kekerasan yang menimpa wartawan sepanjang 2018 lalu. Di 2017, tercatata 60 kasus kekerasan terjadi terhadap pekerja pers. “Berdasar data tersebut, kekerasan terhadap insan pers di Indonesia tergolong masih tinggi,” jelas Adib.

Dalam aksinya, mereka membentangkan spanduk bertuliskan Defend Journalism #WorldPressFreedomDay. Tak hanya itu, sebuah baliho bertuliskan Kembali Merawat Kebebasan Pers. Stop kekerasan, stop doxing dan persekusi, stop kriminalisasi, jurnalis bukan jurkam, dan jurnalis harus sejahtera.

Sejumlah poster seukuran A3 juga turut mewarnai aksi mereka. Poster tersebut bertuliskan Libur Cuma Mitos No Lyfee, UU ITE Lagi … Pencemaran Nama Baik Lagi …, Kritik Jokowi Diserang Cebong, Kritik Prabowo Diserang Kampret dan masih banyak yang lain.

Aksi tersebut, ditutup dengan pembagian stiker kepada pengguna kendaraan yang melintas di Kawasan Monumen Pers. “Dengan aksi yang kami lakukan, semoga tak ada lagi kasus kekerasan baik fisik maupun psikis terhadap pers,” harap Adib.

Sementara itu, salah seorang warga, Suci Puji Astuti (27) mengaku, kebebasan pers harus mutlak. Jangan ada intimidasi terhadap pers. “Masyarakat banyak tahu dari pers. Jika mereka mendapat tekanan dari pihak-pihak tertentu, pastinya akan berpengaruh kepada masyarakat. Sehingga, stop kekerasan terhadap pers,” kata perempuan berparas cantik tersebut.
(ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.