Banner Pemprov Agustus

Staf Ahli Mensos: Capaian Realisasi Anggaran Perlindungan Sosial Lebih dari 96 Persen

Jakarta,koranindonesia.id-Staf Ahli Menteri Sosial (Mensos), Sonny W Manalu, mengatakan realisasi anggaran perlindungan sosial di 2020 mencapai lebih dari 96 persen.

Capaian tersebut disebabkan kerja keras dan dukungan dari semua pihak.
Hal itu disampaikan Sonny dalam Webinar Digital Society, pada Rabu (27/1/2021).
“Kami mengelola anggaran senilai lebih dari Rp125 triliun untuk perlindungan sosial di 2020, dan dengan kerja keras siang dan malam realisasi mencapai lebih dari 96 persen,” kata Sonny yang juga menjabat anggota Komite Penanggulangan COVID-19, dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).
Pemerintah, kata Sonny, tetap berkomitmen untuk memberikan perlindungan sosial kepada masyarakat.
“Meski tidak ada pandemi COVID-19, tetap ada Program Keluarga Harapan (PKH), dan sembako,” ujarnya.
Menurut Sonny, pada 2020 terdapat 9,2 juta kepala keluarga atau Kelompok Penerima Manfaat (KPM) dari PKH.
Selain itu, kata Sonny, untuk penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) mencapai 14,5 juta KPM.
“Kami perluas penerima BPNT sampai 20 juta KPM,” tegasnya.
Ia menuturkan, Kemensos juga meluncurkan crash program yakni, bantuan sosial beras yang bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog).
Untuk program Bantuan Sosial Tunai (BST), kata Sonny, diberikan kepada masyarakar yang tidak menerima PKH dan sembako.
“Usulan dari pemerintah daerah (Pemda) menjadi dasar dari penyaluran BST,” katanya.
Sedangkan untuk 2021, Kemensos tetap melanjutkan  PKH.
Menurut Sonny, terdapat 10 juta KPM untuk   PKH.
Ia menguraikan, untuk program BPNT terdapat 18,8 juta KPM dan berdasarkan usulan dari pemda.
“Mekanisme penyaluran melalui sejumlah bank pemerintah seperti BNI, Bank Mandiri dan BRI,” ujarnya.
Program BST, kata Sonny, akan disalurkan kepad 10 juta KPM  dan kepada masyarakat yang terdampak langsung COVID-19.
Ia menambahkan, program BST diberikan mulai Januari  sampai April 2021.
Di sisi lain, Sonny menegaskan memang masih ada sejumlah masalah penyaluran BST.
“Ada masyarakat penerima BST yang sudah meninggal dunia, serta rekeningnya tutup,” katanya.
Sementara itu, founder Infina dan Kabid Stratkom Siber Kreasi, Oktora Irahadi, menambahkan pentingnya literasi digital bagi masyarakat.
“Saat ini semua aktivitas masyarakat sudah ada di dunia digital,” tegasnya.
Oktora juga  mengimbau agar semua pihak harus menyampaikan fakta di lapangan.
“Jadilah agen-agen perubahan dan sampaikan fakta,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Sosial Tri Rismaharini mengatakan adanya perbaikan mekanisme dalam realisasi program bantuan sosial (bansos).
Tujuannya, penerima bantuan dapat memberikan timbal balik atau laporan mengenai proses penyaluran bantuan.(YDR)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.