Banner Pemprov 17 Agustus

Simak, Fahri Hamzah Bilang UU ITE Jangan Over Dosis

JAKARTA,koranindonesia.Id-Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengatakan UU ITE tidak dimaksudkan untuk larang orang bicara, dan  UU itu tidak berdiri sendiri sebagai UU Pidana umum. Kecuali, untuk melengkapi KUHP,  karena unsur-unsurnya menyangkut siapa yang punya legal standing itu ada di KUHP

“UU ITE itu  hanya bisa berdiri sendiri sebagai UU Administrasi ekonomi,” ujar Fahri Hamzah dalam siaran pers yang diterima koranindonesia.id di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Fahri mengatakan hal tersebut usai menyampaikan orasi kebangsaannya pada deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) Chapter Gorontalo, di Gorontalo, Minggu (10/2/2019) kemarin.

Fahri  menegaskan UU ITE itu tidak juga untuk larang orang bicara. “Ini UU untuk administrasi ekonomi sebagai pelengkap UU Resi Gudang,  UU Penanaman Modal Asing yang kita buat dari tahun  2006-2008,” paparnya.

Sebelumnya dalam orasinya, Fahri menyoroti adanya fenomena kebebasan berpikir dan berbicara yang dibatasi melalui pasal-pasal pemidanaan dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“UU ITE dipakai pemerintah dan digandrungi aparat yang membuat aspirasi masyarakat dihentikan,” kata Fahri .

Menurut dia, kondisi saat ini tidak bisa dibiarkan yaitu orang menyampaikan kritik atas sebuah persoalan lalu dipidana dengan pasal di UU ITE.

“Aparat jangan gandrung menggunakan pasal tersebut apalagi digunakan untuk saling melaporkan demi kepentingan penguasa,” ujarnya.

Fahri mencontohkan pernyataan musisi Ahmad Dhani yang menulis pendapatnya di media sosial bahwa pendukung penista agama layak diludahi muka, lalu ditangkap jatuhi hukuman atas pernyataannya tersebut.

Menurut dia, pernyataan Dhani tersebut sama artinya pendukung kriminalitas layak diludahi mukanya seperti pendukung begal, pendukung teroris, dan pendukung pemerkosa.

“Seolah-olah hukum diinterpretasi sepihak untuk kepentingan penguasa, tidak boleh seperti itu,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia mengalami zaman kebangkitan untuk menentang penjajahan kolonial karena kegelisahan pemikiran lalu muncul gerakan perlawanan.

Karena itu dia menilai Garbi lahir dari kegelisahan kolektif untuk mengembalikan tradisi kebebasan berpikir dan berpendapat yang ada di Indonesia.(Mar)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.