Sikapi Hasil Pemilu, Umat Muslim Jangan Kedepankan Emosi

SOLO, koranindonesia.id – Pengumuman hasil Pemilu 2019 bertepatan dengan momentum Ramadan. Dalam bulan suci tersebut, umat Islam di seluruh penjuru tanah air diharapkan membawa pesan sejuk dan tidak mengedepankan emosi dalam menyikapi hasil Pemilu nanti.

Pimpinan Majelis Tafsir Alquran (MTA), Ustaz Ahmad Sukina mengatakan, apapun hasil Pemilu 2019 yang telah berjalan dengan baik, masyarakat harus menerima. Jangan sampai, terjadi hal yang tidak diinginkan hingga mengancam persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

“Dalam Pemilu pasti ada yang kalah dan menang, apalagi pemilihan Presiden yang calonnya hanya dua jadi pasti ada yang kalah dan menang, jangan semua minta menang. Bagi pendukung yang kalah harus menerima apapun hasilnya. Para elite politik harus ikut mengendalikan pendukungnya. Jangan sampai timbul kerusakan nanti yang rugi juga seluruh rakyat apalagi rakyat kecil,” terang Sukina saat ditemui wartawan, Minggu (5/5/2019).

Dikatakannya, bulan Ramadan merupakan bulan yang suci dan dihormati oleh umat Islam. Orang yang berpuasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan dari segala perbuatan merusak nilai puasa. Secara otomatis, puasa akan membawa suasana Kota Solo hingga Indonesia tetap kondusif pascaPemilu 2019.

“Bulan Ramadan harus menjadi bulan yang tenang, siang dan malam diisi dengan Ibadah. Tidak akan sempat untuk berbuat yang maksiat. Bagi rakyat sudah selesai memberikan hak suaranya, hitungan diserahkan ke penyelenggara Pemilu yang menjalankan sesuai undang-undang yang berlaku,” ujarnya.

Menurutnya, MTA tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon. Ia berharap Kota Solo dan seluruh Indonesia yang notabene MTA juga ada hingga ke pelosok daerah tetap kondusif.

Sementara itu di tempat terpisah, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Tjipto Subadi mengatakan, selama pemilu dilaksanakan dengan baik tanpa praktik yang merugikan demokrasi siapapun pemenangnya tidak akan ada masalah. Menurutnya, apabila rakyat diciderai atau merasa dirugikan tidak boleh marah hingga melakukan aksi anarkistis namun melalui konstitusional.

“Salurkan secara kontitusi hukum yang berlaku. Jangan ciderai suara rakyat. Penyelenggara Pemilu juga harus adil dan bijaksana,” katanya.
(ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.