Banner sumsel

Selama Januari 2019, Ekspor Sumsel Melorot 17, 24 Persen

PALEMBANG, koranindonesia.Id-Nilai ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami Januari 2019 mengalami penurunan sebesar 17,24 persen dibandingkan bulan Desember 2018. Sedangkan jika dibanding dengan periode yang sama tahun 2018 (Januari 2018) ekspor Provinsi Sumatera Selatan  mengalami penurunan 23,17  persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Endang Tri Wahyuninsih mengatakan, nilai ekspor Provinsi Sumatera Selatan bulan Januari 2019 sebesar US$ 251,17 juta terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 18,39 juta dan US$ 232,78 juta merupakan hasil ekspor komoditi nonmigas.

“Dengan nilai ekspor migas dan non migas kita di angka tersebut, maka secara month to month dan year to date mengalami penurunan yang cukup signifikan di level 2 digit,” terangnya.

Menurut Endang, dari negara pasar ekspor Sumsel sebenarnya tak banyak berubah, dimana nama-nama, seperti Tiongkok, Malaysia dan Amerika Serikat menjadi negara tujuan utama ekspor Sumatera Selatan pada periode Januari 2019.

“Negara ini nilai ekspor masing-masing mencapai US$ 54,85 juta, US$ 31,67 juta dan US$ 28,14 juta, dengan peranan ketiganya mencapai 45,65 persen dari total ekspor periode Januari 2019,” jelasnya.

Jika ekspor mengalami penurunan, maka hal serupa juga terjadi pada impor, dimana nampaknya gairah bisnis untuk jenis-jenis produk yang banyak membutuhkan bahan impor juga cukup tertekan.

Dimana, dari laporan BPS nilai impor Sumatera Selatan Januari 2019 sebesar US$ 33,91 juta atau turun sebesar 16,14 persen jika dibandingkan bulan Desember 2018.

“Nilainya sebesar US$ 33,91 juta terdiri dari impor migas sebesar US$ 2,01 juta dan nonmigas sebesar US$ 31,90 juta, dan ini posisinya turun dibandingkan Desember tahun lalu,” ujarnya.

Negara asal impor terbesar masih  Tiongkok dengan nilai impor sebesar US$ 18,32 juta, diikuti Singapura dengan nilai impor US$ 2,88 juta dan Malaysia dengan nilai impor mencapai US$ 2,76 juta. “Tahun lalu, Tiongkok juga yang terbesar dengan nilai impor sebesar US$ 96,18 juta,” tukasnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex K. Edy menyatakan, masih rendahnya harga jual karet di pasar internasioanal membuat produksi karet di Sumsel menurun, sehingga dengan begitu jumlah  ekspor komoditi karet juga turun.

“Jika pada tahun 2017 produksi masih mencapai 1,2 sampai 1,5 juta ton, maka sekarang berkisar 1 sampai 1,2 juta ton, maka dari hasil produksi inilah tentunya yang kita ekspor setelah diolah oleh pabrik dan siap dilempar ke pasar ekspor,” pungkasnya. (Iya)

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.