Sejuta Asa di Balik Pagoda Pulau Kemaro

Oleh Dery Pangestu (Mahasiswa Ilkom Unsri) 

Lambaian tangannya terlihat samar-samar dari geladak kapal relawan pengajar, berpadu dengan teriknya matahari pagi yang menyinari sederet bangunan di bantaran Sungai Musi. Bunyi mesin ketek yang sedari tadi membawa ketek relawan pengajar melaju perlahan menuju SDN Filial 65 Pulau Kemaro sudah menjadi suara bising yang tak asing terdengar di telinga relawan pengajar. Begitulah aktivitas di setiap pagi sabtu. Hilir mudik transportasi air di sepanjang Sungai Musi menghasilkan gemercik air yang saling menyapa, tak terkecuali ketek bermuatan 15 orang relawan pengajar ini.

SDN Filial 65 Pulau Kemaro menjadi satu-satunya sekolah yang ada di Pulau Kemaro, Palembang. Sekolah ini tidak begitu luas, hanya terdiri dari 4 kelas yang berbaris tepat di bantaran Sungai Musi. Sekolah ini sebenarnya tergolong sebagai sekolah cabang atau sekolah kelas jauh sebagaimana arti kata filial dalam KBBI yang berarti cabang atau kelas jauh. Sekolah ini bagian dari SDN 65 Palembang yang terletak di seberang desa. Kesulitan akses menuju sekolah menjadikan alasan banyak tenaga pengajar tidak mau mengajar disini. Meski begitu, tetap ada tenaga pengajar yang dengan ikhlas mengajar dan mendidik anak-anak.

Pulau Kemaro sebenarnya menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang ada di kota Palembang. Menurut kisah, Pulau Kemaro tercipta dari kisah cinta antara Tan Bun An, seorang anak saudagar dari China dan Siti Fatimah, gadis Palembang asli. Jarak Pulau Kemaro dari pusat kota hanya berkisar 10 km saja. Pagoda menjadi ikon Pulau Kemaro disusul oleh kelenteng, makam penunggu pulau dan pohon cinta. Luas Pulau Kemaro hanya 30 hektar dan dihuni oleh ratusan jiwa. Namun, kebanyakan wisatawan hanya mengetahui kemegahan pagoda Pulau Kemaro tanpa tahu ada sesuatu yang tak kalah bermakna dibalik Pagoda itu. Ada pemukiman masyarakat menengah ke bawah dan satu sekolah yang menjadi tempat pengharapan untuk menjadikan anak-anak disana cerdas.

Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak yang akhirnya membuat Komunitas Sriwijaya Menginspirasi memutuskan untuk membantu kegiatan belajar mengajar secara sukarela di SDN Filial 65 Pulau Kemaro tersebut. Setiap sabtunya, relawan pengajar berkumpul di Pelabuhan PT Gajah Unggul Indonesia, Kalidoni yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Pulau Kemaro. Disinilah relawan pengajar menunggu kedatangan ketek masyarakat yang langsung menjemput dari Pulau Kemaro. Perjalanan air yang ditempuh relawan pengajar berkisar antara 5-10 menit saja.

Ajeng Mawarni Putri (19), Koordinator Komunitas Sriwijaya Menginspirasi (Srimpi) mengutarakan bahwa SDN Filial 65 Pulau Kemaro dipilih karena termasuk sekolah cabang dengan fasilitas terbatas dan tenaga pengajar yang tidak kompeten. Ia juga mengungkapkan bahwa kurikulum yang ada tidak berjalan dengan semestinya. Fasilitas pendidikan yang didapat tidak sama seperti yang diterima sekolah lain. “Padahal anak-anak disini sangat aktif, namun sayang fasilitas yang mereka dapatkan sungguh berbeda dengan yang didapatkan sekolah lain,” ujar Mahasiswi Politeknik Negeri Sriwijaya ini. Setiap hari sabtu guru berkuliah, sehingga waktu inilah yang digunakan rombongan kebaikan Srimpi untuk melakukan kegiatan mengajar. Dengan semangat belajar anak-anak yang tinggi serta rasa keingintahuan yang tinggi, maka Srimpi hadir sebagai warna baru bagi mereka. “Salah satu yang buat kami terus semangat untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak, karena mereka pantang menyerah. Pernah suatu ketika, akses satu satunya yakni jembatan menuju ke sekolah roboh, alhasil mereka harus basah-basahan kalau mau ke sekolah. Itulah yang terus menjadi pemicu kami untuk semangat bertemu mereka,” Ajeng bercerita sembari menunjukkan foto beberapa kegiatan Srimpi.

Kegiatan mengajar setiap hari sabtu ini selalu mendulang semangat dari anak-anak. Semakin hari anak-anak semakin semangat dan memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk belajar dengan metode kreatif yang disuguhkan relawan pengajar, tak terkecuali pihak sekolah. Siti Rohma (23), salah seorang sosok guru penggerak yang ada disana juga mengakui bahwa keberadaan Srimpi sangat membantu mereka sebagai tenaga pengajar. “Alhamdulillah, sangat senang sekali dan merasa terbantu, terutama anak-anak sangat antusias bertemu dan belajar bersama kakak-kakak Srimpi,” ujar guru muda yang setia mengajar hingga kini. Ayank, sapaan akrabnya, sudah mengajar sejak Agustus 2016 silam. Ia mengajar bersama empat guru lainnya yakni Hernawati mengajar kelas 1 dan 2 yang masing-masing berjumlah 17 dan 20 siswa, Betty Wulandari mengajar kelas 3 yang berjumlah 10 siswa, Citra Lapera mengajar kelas 5 yang berjumlah 11 siswa dan Madaniyah mengajar kelas 6 yang berjumlah 10 siswa. Ayank sendiri mengajar kelas 4 dengan jumlah siswa 20 orang. Total keseluruhan siswa berjumlah 78 orang.

Ayank juga menceritakan kondisi bangunan sekolah yang tidak memiliki halaman dan langsung berhadapan dengan hiruk-pikuk laju kapal besar dan tongkang di Sungai Musi. “Ruang kelas kita hanya ada empat lokal, tidak ada kantor, tidak ada listrik dan tidak ada ruang bagi guru untuk beristirahat. Namun, walau dengan kondisi yang memprihatinkan ini anak-anak tetap semangat belajar dan setiap hari datang ke sekolah,” tutur Ayank sembari menunjukkan keadaan sekolah. Ia berharap, pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Palembang tidak hanya memperhatikan kondisi siswa saja, tetapi juga memberikan perhatian lebih juga kepada guru.

Setiap pekannya, Srimpi selalu mengadakan pembaruan metode belajar membaca kepada siswa. Srimpi juga menghadirkan kelas non baca bagi siswa yang sudah lancar membaca seperti kelas mewarnai, kelas karate, kelas mendongeng dan beragam kelas lain yang menambah kemampuan dan mengasah kreativitas siswa. Tessa Wahyuni (19), salah seorang relawan pengajar mengaku senang dapat menjadi pengajar dan pendidik bagi siswa. “Anak-anak disini sangat aktif. Mereka lebih senang belajar di luar kelas sambil bermain. Mereka juga sangat menunggu pembelajaran dengan media kreatif seperti games, ice breaking dan berbagai media belajar yang kami bawakan setiap pertemuan,” ucap Tessa dengan penuh semangat. Bertutur penuh harap, Tessa ingin Pemerintah menambah jumlah tenaga pengajar, memberikan buku-buku pelajaran dan bacaan pendukung lainnya, melengkapi infrastuktur sekolah dan media pembelajaran yang membuat kreativitas siswa berkembang.

Kebutuhan tenaga pengajar saat ini menjadikan kebutuhan yang paling mendesak. Karena gurulah yang melahirkan beragam profesi dan masa depan anak-anak, maka jumlah tenaga pengajar yang memadai akan memperlancar proses belajar mengajar. Meski begitu, peran Srimpi sedikit banyak telah membantu guru disana, walaupun hanya mengajar setiap hari sabtu. Menjadi harapan Srimpi, guru serta masyarakat setempat kepada pemerintah untuk melirik dan memperhatikan sekolah, menjamin pemerataan fasilitas pendidikan, meningkatkan kemampuan guru dan menunjang segala fasilitas pendidikan. Anak-anak yang memiliki semangat belajar yang tinggi, aktif dan kreatif adalah investasi masa depan bangsa yang harus dijaga dan dipenuhi segala kebutuhan pendidikannya.

Komunitas Sriwijaya Menginspirasi sendiri mulai bergerak sejak Maret 2019. ketika masih dibawah naungan organisasi nirlaba Dompet Dhuafa Volunteer Sumatera Selatan. Kegiatan berlangsung dari bulan Maret hingga Mei. Setelah sempat berhenti, kemudian dianggap mampu berdiri sendiri dan berkegiatan kembali sejak bulan September hingga Maret 2020. Relawan pengajar dari awal berjumlah 17 orang relawan pengajar yang bersifat sementara. Kini, relawan pengajar berjumlah 11 orang. Program utama Srimpi adalah Pasca (Palembang Bisa Membaca) karena anak-anak disana masih banyak yang kesulitan mengeja bahkan mengenal huruf.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.