Banner sumsel

Sambut Imlek, Umat Tridharma Ikuti Ritual Mandi Budha di Klenteng Tien Kok Sie

SOLO,koranindonesia.Id – Prosesi mandi Buddha Maitreya di Kelenteng Tien Kok Sie dilakukan umat Tridharma dalam menyambut tahun baru Imlek 2570/ 2019 pada Selasa (5/22019) dini hari. Permandian rupang milefo menjadi simbol penyucian diri umat.

Tepat tengah malam, prosesi ini dilakukan. Sedangkan, rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 22.00 WIB kemarin. Sebelum pergantian tahun baru, puluhan umat melakukan ritual dengan menggunakan sarana lilin, dupa, sesaji berupa buah-buahan yang ditata satu tampan bersama rupang milefo di awali dari bagian tengah ruangan.

Di sisi lain, bagian depan ruangan kelenteng sudah dipersiapkan altar khusus untuk memandikan rupang milefo Budha dengan hiasan bunga berwarna kuning merah beserta air kembang di dalam tempayan.

Sebelumnya, umat berkeliling di dalam ruangan kelenteng berjalan mengitari ruangan bagian dalam searah huruf delapan dengan mengarak rupang milefo diringi pukulan gong dan asap wewangian.

“Ritual ini bukan untuk memandikan Kim Sin Buddha Maitreya, melainkan symbol dengan memakai rupang milefo menjadi lambang umat dalam penyucian atau pembersihan diri dari sifat buruk, kesalahan, kekotoran, kejelekan yang melekat pada diri kita dan dibersihkan melalui rupang milefo yang dimandikan dan didoakan. Sehingga di kehidupan di tahun Babi ini semakin baik,” terang Seksi ritual Kelenteng Tien Kok Sie, Budiyono Tekgianto kepada wartawan.

Menurut Budiyanto, ritual mandi Buddha bertujuan untuk sarana pertaubatan atau penghapusan dosa-dosa umat menjelang memasuki tahun yang baru sehingga pada saat tahun berganti umat sudah memiliki tubuh dan jiwa yang dibersihkan.

Pria Tionghoa yang akrab disapa Atek itu menerangkan ada beberapa urutan prosesi yang dilakukan. Dimulai dengan pemukulan genderang yang dimaksudkan untuk membuka jalannya arak-arakan. Dilanjutkan dengan penebaran air suci untuk membersihkan jalan yang dilewati oleh Buddha Maitreya.

Selanjutnya, ada minyak pelita sebagai simbol penerangan sehingga diharapkan memberikan jalan yang terang tanpa halangan apapun. Keempat cendana asap wewangian yang baunya terus menyeruak selama perjalanan arakan Sang Buddha.

Lalu ada pembawa bendera, yang menandakan bahwa Buddha Maitreya tengah lewat. Arak-arakan rupang milefo pada saat akhir dibunyikan bunyi-bunyian tok-tok 3 kali dan sekali bunyi gong dengan barisan paling belakang adalah pembawa uang sembahyang.

Pihaknya berharap, di tahun babi tanah ini memberikan kebaikan di tahun-tahun sebelumnya. (ali)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.