Banner pemprov Sumsel Vaksin
Muba vaksin maret 2021

RI- Malaysia Teken MoU Pembelian Palm Sludge Oil

Jakarta,koranindonesia.id-Indonesia dan Malaysia melakukan sinergi untuk mendorong peningkatan nilai perdagangan minyak kelapa sawit. Sinergi ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pembelian palm sludge oil (limbah sawit) Indonesia oleh Malaysia sebanyak 2.000 ton/bulan selama dua tahun ke depan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (kemendag) Kasan mengatakan dengan adanya sinergi ini, kedua negara tetangga akan terus melakukan diplomasi kelapa sawit di pasar internasional. Hal ini karena masih banyak isu miring yang dihadapi dalam pemasaran produk minyak nabati tersebut di luar negeri, khsusnya eropa.

“Melalui penandatanganan MoU ini, diharapkan kedua perusahaan dapat saling bersinergi mendorong peningkatan nilai perdagangan minyak sawit kedua negara. Bersama-sama kita terus melakukan diplomasi kelapa sawit, mempromosikan kelapa sawit di pasar global, serta melawan isu miring seputar minyak kelapa sawit,” ujar Kasan dalam keteranagn resmi penandatanganan MoU antara PT Alam Duta Mandiri dan Dendro Integrasi SDN Bhd pada Rabu (17/2/2021).

Penandatanganan dilakukan oleh Chief Executive Officer PT Alam Duta Mandiri, I G A Raka Saputra dan Chief Executive Officer Dendro Integrasi Sdn Bhd, Azra Abdul serta disaksikan oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Kasan dan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Bakar.

Kasan mengatakan Kemendag menyambut baik pembelian palm sludge oil Indonesia oleh perusahaan asal Malaysia tersebut.

“Diharapkan ke depannya produsen Indonesia lainnya mampu memasok permintaan palm sludge oil ke Malaysia dan juga produk kelapa sawit serta turunan lainnya ke seluruh dunia,” imbuh dia.

Dia menjelaskan pada 2020, ekspor Indonesia ke Malaysia untuk produk minyak sawit mentah (CPO) dan turunan mencapai US$945,03 juta. Nilai ini naik 15,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$820,97 juta.

Di Kawasan ASEAN, Indonesia merupakan pemasok CPO ke-1 untuk Malaysia dengan pangsa pasar 85,14 persen, disusul Thailand (8,56 persen), Kamboja (1,78 persen), Filipina (1,48 persen), dan Singapura (0,61 persen).

“Sedangkan ekspor palm acid oil/palm sludge oil Indonesia ke dunia pada 2020 mencapai US$544,47 juta atau naik 6,60 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Kasan.

Malaysia, lanjut dia, merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia untuk produk tersebut dengan nilai ekspor sebesar US$185,37 juta atau pangsa pasarnya 34,05 persen, disusul Italia US$101,12 juta (18,57 persen), Tiongkok US$76,93 juta (14,13 persen), Belanda US$41,61 juta (7,64 persen), dan Amerika Serikat US$27,20 juta (5 persen).

Lebih lanjut Kasan menjelaskan, produksi kelapa sawit Indonesia pada 2020 masih berada di atas rata-rata produksi tahunan, meskipun berbagai sektor industri terpukul oleh pandemi COVID-19.

Berdasakan data Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, pada 2020 produksi kelapa sawit Indonesia mencapai 51,58 juta ton atau lebih tinggi dari rata-rata tahunan sebesar 37,57 juta ton.

Realisasi volume ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2020 mencapai 34 juta metrik ton atau turun 9 persen dibanding 2019.

“Namun, nilai ekspor dari komoditas tersebut justru mengalami kenaikan sebesar 13,6 persen menjadi US$22,97 miliar. Hal ini disebabkan kenaikan harga- produk kelapa sawit di tahun 2020,” ungkap Kasan.

Selama dua dekade terakhir, lanjut Kasan, kelapa sawit memang telah memainkan peranan yang sangat signifikan dalam perekonomian.

Sawit dapat diolah menjadi berbagai bahan pangan dan oleokimia. Selain itu, palm sludge oil juga dapat digunakan dalam industri energi, kosmetik, serta barang konsumsi (consumer good) seperti sabun dan sampo.

“Tidak dapat kita pungkiri, di tengah langkanya sumber energi bahan bakar, minyak kelapa sawit menjadi salah satu sumber energi alternatif. Biodiesel merupakan salah satu sumber energi alternatif di masa depan, tidak hanya bagi Indonesia namun juga bagi negara-negara di dunia. Sebab, selain harganya yang relatif murah, juga ramah lingkungan,” pungkas Kasan.(YDR)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.