Banner pemprov juni

Rencana Kenaikan Tarif KRL Jabodetabek, Kenyataan Pahit Bagi Pelanggan

JAKARTA, koranindonesia.id – Rencana kenaikan tarif KRL Jabodetabek dinilai sebagai kenyataan pahit bagi para pelanggan.

Penilaian tersebut diungkapkan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi.

Menurutnya, kenaikan tarif KRL menjadi rasional karena sejak 2016 tarif KRL belum pernah disesuaikan. Namun, lain halnya jika pemerintah akan menambah besaran dana PSO pada PT KAI.

“Sebaliknya, jika pemerintah tak mampu menambah dana PSO, maka opsi penaikan tarif KRL menjadi tak terhindarkan, walau terasa pahit bagi konsumen,” kata Tulus saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (16/1/2022).

Tulus menyebut merujuk hasil riset YLKI pada Oktober 2021 terhadap 2.000 responden di Jabodetabek & Rangkasbitung, dari aspek ATP & WTP memang ada ruang bagi untuk menaikkan tarif KRL menjadi Rp 5.000 pada 25 kilometer pertama.

Dia mengatakan pada tarif pada 10 kilometer pertama direkomendasikan tetap atau tidak ada kenaikan, karena aspek ATP-nya lebih rendah daripada tarif eksisting.

Namun, Tulus mengingatkan kenaikan pemerintah harus peningkatan pelayanan. “Sebagaimana aspirasi 1.065 responden (lebih dari 50 persen) agar KAI/PT KCI tingkatkan pelayanannya,” ucap Tulus.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tengah mengkaji usulan kenaikan tarif KRL Commuter Line. Rencananya tarif KRL akan naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 5.000 per 1 April 2022 mendatang.

Kasubdit Penataan dan Pengembangan Jaringan Direktorat Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Ditjen Perkeretaapian Kemenhub Arif Anwar menjelaskan, Tarif yang akan naik adalah tarif dasar sejauh 25 kilometer untuk tarif KRL.

Jika awalnya tarif KRL untuk 25 kilometer pertama hanya Rp 3.000, rencananya dinaikkan menjadi Rp 5.000, atau naik Rp 2.000.

Anwar menjelaskan untuk tarif lanjutan KRL 10 kilometer berikutnya tidak berubah, yaitu tetap di angka Rp 1.000.(Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.