Presiden: Perbankan Jangan Main Aman

JAKARTA,koranindonesia.id- Presiden Joko Widodo meminta dunia perbankan agar sektor keuangan itu perlu lebih agresif, keluar dari zona yang nyaman, karena ini yang dibutuhkan ekonomi kita. Apalagi angka Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio  kecukupan rata-rata perbankan nasional mencapai angka 23,36 persen.

Hal itu diungkapkan oleh Presiden saat bertemu dengan Para Pimpinan Bank Umum di Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3).

“Ini angka yang sangat kuat. Ini CAR yang sangat tinggi. Setahu saya di negara-negara maju tadi sudah disampaikan juga oleh Pak Ketua OJK hanya di tingkat 12-15 persen saja, kita di 23,36 persen,” kata Presiden Jokowi.

Apalagi, lanjut Presiden, bahwa  excess reserve atau cadangan lebih perbankan kita mencapai Rp. 626 triliun. Ini berarti perbankan kita juga sangat likuid.

Namun Presiden mempertanyakan, apakah perbankan kita justru terlalu aman dengan angka yang sebesar itu. Dengan kata lain, lanjut Presiden, apakah para pemimpin industri perbankan terlalu main aman karena angka tersebut tinggi sekali.

Meski CARnya tidak merata, menurut Presiden, perbankan nasional perlu memikirkan agar sektor keuangan itu perlu lebih agresif, keluar dari zona yang nyaman, karena ini yang dibutuhkan ekonomi kita.

“Angka 12 persen (penyaluran kredit, red) tahun ini tidak mungkin tercapai kalau kita terjebak di zona nyaman tadi. Tapi sekali lagi juga yang namanya perbankan itu harus prudent,” sindir Presiden Jokowi.

Meski semua perbankan menginginkan keuntungan yang besar, Presiden meminta agar pelaku jasa keuangan jangan terlalu main aman. Ia mengingatkan, semaraknya bisnis start up dan sektor pariwisata atau life style perlu diantisipasi industri perbankan.

“Perbankan kita harus lebih proaktif membantu UKM (Usaha Kecil Menengah) untuk pindah ke platform digital. Arahkan mereka pengaruhi mereka agar pindah ke platform digital,” tutur Presiden. (ard/setkab.go.id)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.