Banner Muba 23 – 31 Juli 2021
banner Pemprov Juni

Politisi PKS Ini Sebut Presidential Threshold 5 Persen Untuk Lahirkan Pemimpin Berkualitas

JAKARTA, koranindonesia.id – Politisi Partai Keadilan Sejahtera Mardani Ali Sera mengatakan pembahasan RUU Pemilu sedang dilakukan dan salah satu topik yang akan dibahas adalah Presidential Threshold (PT).

“Kami @FPKSDPRRI mengusulkan ambang batas diturunkan menjadi 5% kursi DPR / 10% suara nasional, menggantikan PT 20% yg sebelumnya digunakan pada Pemilu 2019,” tulis @MardaniAliSera di twitter, Senin (6/7/2020).

Kata dia, penerapan angka 20 persen pada Pemilu 2019 lalu hanya menghasilkan dua pasangan calon. Sehingga dampak yang dihasilkan sedemikian luar biasa.

“Seperti polarisasi berkepanjangan yang timbul di tengah masyarakat. Bahkan sampai saat ini, jika melihat media sosial, aroma perpecahan masih sangat terasa. Tidak sehat untuk bangsa kita ke depan,” katanya.

Menurutnya, aturan mengenai PT dalam RUU Pemilu sendiri tercantum pada pasal 187, 192, dan 198. Angka 5% dipilih setidaknya dilatarbelakangi beberapa alasan. Dengan ambang batas pencalonan yang moderat seperti 5%, diharapkan muncul potensi-potensi pemimpin bangsa yang semakin variatif.

“InsyaAllah semakin banyak calon berkualitas yang maju, juga kesempatan bagi setiap partai atau gabungan partai untuk memajukan kader terbaiknya. Diharapkan tidak ada lagi ‘transaksi’ politik satu sama lain karena setiap partai, besar atau kecil, memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya.

Mardani mengatakan, menerapkan angka 5% sekaligus menjadi bukti setiap partai dalam menciptakan kaderisasi yang telah lama dibangun.

“Tentu kita menginginkan kaderisasi partai tetap terbangun dengan baik, agar ke depannya partai politik mampu melahirkan calon-calon pemimpin yang berkualitas,” katanya.

Sementara, menurunkan angka 20% ke 5% bukan berarti melemahkan sistem presidensial seperti yang dikhawatirkan beberapa pihak.

“Justru dengan menurunkan PT, ini adalah langkah memberikan independensi terhadap partai politik serta penguatan sistem kaderisasi internal.”

Mardani mengingatkan bahwa hal terpenting dari sistem presidensial adalah menerapkan mekanisme yang menjunjung tinggi akuntabilitas dan transparansi.

“Jika hal tersebut tidak diterapkan dengan baik, ada atau tidaknya PT, maka sistem presidensial yang kita harapkan akan sulit terwujud,” kata dia.

Dalam kalimat akhir, ia menuturkan bahwa dengan PT 5% masyarakat dapat lebih berkonsentrasi untuk mengangkat gagasan calon yang diusung sebagai strategi pemenangan, karena peluang muncul calon-calon yang berkualitas dan memiliki gagasan menjadi terbuka lebar.

“Tidak lagi terjebak pada isu-isu yang semakin menciptakan polarisasi berkepanjangan, tak berguna dan menghancurkan bangsa.”. (Mar)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.