Politik Ikan Lele Warnai Kampanye Pilpres 2019

JAKARTA, koranindonesia.Id – Pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, seharusnya kedua pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden dalam kampanyenya memberikan harapan yang besar bagi masyarakat ke depan. Kalau tak ada harapan, mereka tidak akan percaya dan akhirnya menjadi golput atau tidak menggunakan hak pilih.

“Poin ini sangat penting terkait dengan kondisi negara kita saat ini. Harapan itu ada sama Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” kata Pangi Syarwi Chaniago ketika dihubungi koranindonesia.id di Jakarta, Minggu (18/11/2018).

Kalau ada perang diksi, kata Ipang, begitu dia akrab disapa, harus bersemangatkan persatuan dan kesatuan. “Tetapi yang terjadi adalah semangat politik ikan lele, semakin keruh semakin senang. Ini yang rumit, bagaimana menyelesaikan persoalan bangsa yang cukup banyak ini,” kata Ipang.

Apalagi diksi-diksi tersebut dikeluarkan oleh calon presiden. “Kalau itu masyarakat biasa tidak ada masalah, tapi kalau selevel presiden, calon presiden yang mengeluarkan diksi perasa begitu maka akan menjadi polemik dan bumerang,” ulas Ipang.

Ipang merasa heran dengan sikap Jokowi yang dinilainya telah salah mengelola diksi dan perasaan selama masa kampanye yang sudah berjalan hampir 2 bulan. Dulu kata Ipang, pribadi Jokowi tidak seperti itu, tapi sekarang justru banyak menyerang dengan sasaran yang tidak jelas.

“Dulu pak Jokowi nggak pernah menyerang, tiba-tiba belakangan banyak melakukan politik sindiran, menyerang siapa yang dituju juga tidak tahu, karena di sini nggak tahu aktornya siapa yang mau dituju. Ini sebetulnya jelek terhadap bapak Jokowinya, terhadap citranya,” ujar Ipang.

Sebaikanya menurut Ipang, Jokowi sebagai calon presiden yang sedang memimpin pemerintah lebih fokus terhadap infrastruktur, jelaskan keunggulan pemerintah yang sedang dipimpinnya ke publik sehingga masyarakat. Ketika masyarakat puas maka secara otomatis masyarakat akan memilih kembali tanpa harus meminta dipilih. “Tidak usah panik dan memunculkan sindiran-sindiran seperti itu. Malah itu justru merusak Citra beliau,” kata Ipang.

Berbeda dengan calon penantang, kata Ipang, harus melakukan apapun karena itulah kemewahan dari sang penantang. Penantang bisa mnegkritik apapun, bisa menyalahkan apapun, tapi penantang belum berbuat apa-apa. Ini menjadi kelemahan penantang, dia masih menjadi narasi dan imajinasi baru akan.

“Itu menjadi tantangan bagi sang penantang dan sang penantang wajar saja mengatakan tidak akan impor, karena itu yang akan dia jual. Karena apa, Karena janji Pak Jokowi misalnya di nawacita soal mewujudkan kemandirian bangsa, sektor-sektor ekonomi domestik itu akan dibangun yaitu bangsa yang mandiri. Dia kritik ya biasa dan bisa ditanggapi bahwa nggak mungkin tidak ada satupun negara yang tidak impor dengan menunjukan negara yang tidak impor. Tapi membatasi impor itu wajar,” terang Ipang.(Mar)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.